Habitus baru, hidup melawan arus. Bisa? Berani?
Setelah para perampok bank pergi, si manajer berkata kepada kepala cabangnya untuk segera lapor ke polisi. Tapi kepala cabang berkata, ”Tunggu dulu, kita ambil dulu 10 milliar untuk kita bagi dua. Nanti totalnya kita laporkan sebagai uang yang dirampok.”
Kepala cabang itu mengajak managernya untuk ‘Swim with the tide’. Berenang mengikuti arus.
“The manager doesn’t have a mind of her own; she just swims with the tide.”
Manager tidak mempunyai pendapatnya sendiri; dia ikut saja dengan pendapat orang lain, orang banyak.
Khotbah kemarin pagi mengajak kita untuk memiliki habitus baru, ‘stop swimming with the tide’, tidak lagi ikut arus, harus mempunyai prinsip pribadi, seperti Nikodemus.
‘Gajah diblangkoni’. Pasti tak mudah, ketika habitus kepala cabangnya itu masih berenang ikut arus pejabat, seperti kaum Farisi, tempat Nikodimus bekerja. Bawahan akan enggan berenang melawan arus, apalagi kalau enak dan menguntungkan.
Fakta itu problem umat pada umumnya, seperti Nikodemus, bagaimana mungkin lahir baru? Tidak mudah. Yang kuat berpegang pada Allah saja yang bisa. Caranya, ya solider, saling bergandeng tangan dengan lingkungan.
Salam sehat. Menepi dan menyepi.
Jlitheng

