“Maknai pengorbanan kasih Yesus yang disalib agar kita memperoleh cinta sejati-Nya.”
Yesus yang disalib berkorban untuk keselamatan kita. Tidak seharusnya kita bersikap tidak peduli dan cuek. Tapi hendaknya kita menanggapi kasih-Nya, hidup saling mengasihi dan bahagia.
Sebaliknya, jika tidak menanggapi, menjauhi, dan bahkan menolak kasih Yesus, dipastikan hidup kita bakal kekeringan, menderita, dan mati.
Saya ingat nasihat (alm) Bapak, ketika kami anak-anaknya diminta membiasakan disiplin bangun pagi. Tujuannya agar kami diminta ikut merasakan perjuangan Ibu Bapak yang bekerja membanting tulang demi keluarga, sehingga kami tidak malas dan mengecewakan mereka. Kami jadi anak yang rajin bekerja, mandiri, dan bertanggung jawab.
Begitu pula dengan pengorbanan Yesus yang disalib untuk menebus dosa dan demi keselamatan kita.
Ketika kita mengecewakan harapan orangtua, mereka jadi bersedih hati dan nelangsa. Terlebih lagi, jika kita mengecewakan Yesus.
Untuk itulah, kita harus menghidupi iman kita. Caranya adalah dengan memaknai dan menghayati simbol salib, yaitu kasih, pengampunan, dan keselamatan.
Dengan mengasihi sesama agar kita pahami, bahwa sesungguhnya kita diutus Yesus untuk jadi Kabar Gembira bagi sesama.
Dengan mengampuni sesama agar kita jadi pribadi yang murah hati. Mudah memaafkan, mengampuni, dan mendoakan yang bersalah, bahkan terhadap mereka yang memusuhi kita.
Dengan menyangkal diri, manggul salib, dan mengikuti Yesus secara totalitas sesungguhnya kita tengah berjuang untuk memperoleh cinta sejati-Nya.
Dengan semangat rela berkorban untuk mengasihi sesama, kita peroleh keselamatan jiwa. Hidup bahagia bersama-Nya untuk selama-lamanya.
Mas Redjo

