Maaf, jika aku pantang bicara itu tidak berarti aku sedang jengkel atau marah padamu.
Aku juga tidak sedang manjakan mulut dengan makanan yang lezat dan nikmat sambil bermesraan dengan orang ketiga, sehingga aku melupakanmu.
Aku berdiam diri tidak berarti aku sedang bermalas-malasan sambil bermain hp untuk mencari calon penggantimu.
O, kau jangan multi tafsir atau salah menilai. Lebih bijak kau jauhkan dan buang praduga untuk menghakimi itu.
Jujur, aku berdiam diri, karena aku tengah mendidik mulut agar tidak asal bicara, selain untuk berkata-kata baik dan positif.
Aku mengurangi bicara, karena aku sedang melatih mata, telinga, dan hidung ini agar makin peka dengan pesona cinta dan kasihmu.
Dengan mata, aku mengagumi gerak luwesmu, kekasih yang mempesona dan membuat aku makin takjub padamu.
Dengan telinga, aku mendengarkan kata-katamu yang menyihir jiwa ini untuk mewujudkan kasih itu secara nyata padamu.
Dengan hidung, aku mencumbui aroma kebaikan dan kemurahanmu, karena kau amat mengasihiku.
Terima kasih, karena kasih setiamu padaku, aku mampu pahami makna banyak mendengar sedikit bicara untuk utamakan bukti, ketimbang janji dan omong kasong.
Dari kepapaan, ketidakberdayaan, dan ketidakpantasanku, karena kasihmu yang memanusiawikan diriku ini, izinkan aku mengucap syukur dan terima kasih:
“Yesus, Engkau kekuatanku dan andalanku. Bersama-Mu, selamatlah jiwaku.”
Mas Redjo

