“Jangan melihat masa lalu dengan penyesalan. Jangan pula melihat masa depan dengan kekhawatiran, Tapi lihatlah hari ini dengan syukur dan senyuman.” – Rio, Scj.
Awal dari beban hidup itu sering kali datang dari pikiran sendiri. Lalu turun ke leher, bawaan kita jadi serba tegang. Sehingga akhirnya turun ke hati, bawaan kita jadi tidak tenang, gundah gulana, gelisah, dan galau. Nafsu makan pun tidak ada.
Jika hidup ini serasa ingin lebih hidup, tenang, damai, dan bahagia, kita terapkan 4 hal ini:
Pertama, ‘so what’ gitu lho, “gitu aja kok repot” kata (alm) Gusdur. Tidak usah terlalu pusing dengan komentar, kritikan, dan nyinyiran orang lain. Kita yang menjalani hidup ini, orang lain mengomentari, dan Tuhan yang menentukan.
Kita tidak harus pusing dengan kata orang, karena hanya membuang waktu, bahkan menghambat dan jadi beban kita untuk melangkah. Ambil positifnya saja, selebihya tidak perlu pusing. ‘So what’ gitu lho.
Kedua: orang lain sukses, kenapa kita tidak. Stop membandingkan! Jangan terobsesi kesuksesan orang lain. Setiap orang mempunyai kisah perjalanannya sendiri. Semakin jauh membandingkan diri dengan orang lain yang ada pada kita adalah iri dan tidak puas diri. Ingat syukuri keadaan dan kondisi saat ini. Tapi teruslah berjuang, buat mimpi itu jadi kenyataan. Karena setiap tetesan air mata dan keringat itu tidak jatuh sia-sia.
Ketiga: takut salah, takut gagal. Kalau salah dan gagal kenapa? Ketakutan itu akan menghambat kesempatan untuk bertumbuh. Semua orang sukses yang sekarang berada di atas telah ratusan, ribuah bahkan jutaan kali gagal dan salah. Orang bijak adalah orang yang berguru dari kegagalan dan kesalahan. Angkatlah tangan, maka Tuhan akan turun tangan.
Keempat: penyesalan dan kegagalan masa lalu. Setiap orang pasti mempunyai kisah masa lalu. Hal itu tidak perlu dipikirin secara mendalam dengan penyesalan, Jangan pula melihat masa depan dengan kekhawatiran. Tapi lihat hari ini dengan syukur dan senyuman. Karena hari esok matahari bersinar cerah.
Deo gratias,
Edo/Rio, Scj

