“Kepintaran itu bagai celana dalam, penting untuk digunakan, tapi tak perlu dipamerkan.” – Merry
Bangga rasanya jadi orang pintar, tapi jauh lebih bahagia menjadi orang pintar yang bijak. Orang pintar itu selalu tahu apa yang diucapkan, mencerna informasi, dan merespon kembali dengan cepat. Ucapannya lugas dan tajam. Sedang orang bijak itu berhati-hati dalam ucapan. Apakah perlu diucapkan atau tidak, bermanfaat, atau menyinggung perasaan?
Orang bijak tahu betul, bahwa ucapan lebih tajam dari pedang. Sekali melukai sulit disembuhkan, meski lewat kata maaf.
Orang pintar mempunyai kemampuan dan kelebihan besar. Hal itu yang membuatnya percaya diri, terlihat sombong, dan angkuh. Sebaliknya, orang bijak juga mempunyai kemampuan dan kelebihan yang besar, tapi ia sadar, bahwa dia tidak sempurna dan memiliki kekurangan. Itulah yang membuatnya rendah hati untuk terus belajar.
Orang pintar mengandalkan logika dan pengetahuan dalam berpikir untuk mengambil keputusan. Orang bijak itu berpikir tidak hanya mengandalkan logika, tapi juga hati dan intuisinya. Dia mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan.
Orang pintar itu selalu merasa benar, sulit menerima pendapat orang lain. Bahkan ia selalu berargumen dan memaksa orang lain ikut pola pikirnya. Sedang orang bijak mau menerima perbedaan dan toleransinya tinggi.
Orang pintar meminta maaf, ketika salah. Orang bijak berani minta maaf, meski ia tidak salah.
Orang pintar sedikit mendengarkan, tapi banyak bicara. Orang bijak banyak mendengarkan sedikit berbicara.
So, jadilah orang pintar yang bijak.
Deo gratias.
Edo/ Rio, Scj

