Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kehidupan adalah sebuah misteri yang dapat mencengangkan hati.”
(Amanat Kehidupan)
Sesungguhnya, hidup dan kehidupan ini bagaikan biduk yang sedang mengarungi dan berselancar di atas gairah gelora samudra yang tidak dipahami maknanya oleh manusia.
Ada banyak kisah peristiwa hidup yang melampaui dan tidak terjangkau oleh akal budi manusia selaku aktor sentral dalam sebabak sandiwara kehidupan ini.
Sejumput kisah melankolis yang dihadapi sebuah keluarga kecil ini, sungguh mengusik kesadaran nurani manusia untuk belajar menangkap makna terselubung dari aneka peristiwa hidup ini.
Suatu hari, sang Dosen berkisah di hadapan para mahasiswanya.
Ada sepasang suami istri yang bermalam di sebuah hotel mewah. Suami itu dalam upaya merawat istrinya yang menderita penyakit kanker.
Namun naas, hotel tempat mereka menginap itu dilalap si jago merah. Sebuah helikopter penyelamat pun bersiaga di atas puncak hotel itu.
Suami istri itu tergopoh ke atas. Namun sayang, di dalam kepanikan itu, suami itu nekad melompat ke atas dan membiarkan istrinya tertinggal di bawah.
Sang istri hanya mampu menatap kosong pada sikap sang suami.
Pada saat itu juga, seluruh bangunan hotel itu dikerubuti nyala api yang berkobar.
Di akhir kisah, suami itu selamat, sedang istrinya tidak terselamatkan.
Sambil menatap tajam wajah para mahasiswa, Dosen itu bertanya, “Menurutmu, apa yang diucapkan sang istri kepada suaminya?”
Ada mahasiswa yang menjawab, bahwa sang istri berkata, “Suamiku, ternyata betapa egoisnya kamu!”
Sedangkan mahasiswa lain berpendapat, dengan sambil teriak istri itu berkata, “Betapa jahatnya hatimu!”
Namun, ada seorang mahasiswi dengan lantang menjawab, “Suamiku, pelihara dan selamatkan ketiga anak kita.”
Dalam hening sepi, Dosen itu berkata, “Itulah kata-kata terakhir dari sang istri. Dia hanya mau menitipkan ketiga putranya kepada suaminya.”
Dosen itu lalu bertutur dengan keharuan mendalam, “Para mahasiswaku, suami itu adalah aku ini!”
Maka, berhamburanlah para mahasiswa itu dengan berurai air mata dan berusaha memeluk kaki sang Dosen.
Itulah langgam liukan kehidupan. Getaran geliat dari sejumput misteri di dalamnya!
Kita sangat sering menilai kehidupan ini hanya berdasarkan pandangan sesaat dan spontan, tanpa mengetahui lilitan misteri di baliknya. Sungguh, betapa dangkal akal budi kita.
Lewat kisah melankolis dan dramatis ini, kita diajak agar mampu memandang relungan realitas hidup ini secara lebih mendalam. Tidak sekadar berdasarkan bungkusan luarnya.
Karena sejatinya, bukankah relungan kehidupan ini merupakan serangkaian misteri juga?
Kediri, 8 Maret 2024

