Sejenak, mari melihat yang ada di sekitar kita: keluarga, komunitas dan tempat di mana kita bekerja saat ini. Juga kita melihat dalam konteks yang lebih luas dan besar: negara kita dan dunia kita. Pertanyaannya, “Apakah yang ada di sekitar kita itu menjadi tempat yang nyaman? Atau justru menjadi tempat yang selama ini ‘merenggut’ kebahagiaan kita?”
Menjadi tempat yang nyaman, karena kita merasakan kesatuan, diterima dengan baik, dan dihargai.
Sebaliknya, menjadi tempat yang ‘merenggut’ kebahagiaan, karena kita merasa setiap hati tidak nyaman, terganggu, banyak konflik ini itu, merasa diasingkan, dan tersingkirkan. Bahkan kita tidak dihormati sama sekali.
“Lalu, apa yang muncul dalam pikiran kita?”
Orang yang membuat kita merasa nyaman adalah orang-orang yang baik dan yang membuat kita tidak nyaman adalah orang-orang yang jahat? Semua bebas memberikan penilaian dan menyampaikan pendapatnya. Semua itu sah, tapi perlu diklarifikasi konteksnya. Sebab, jika tidak diklarifikasi, nanti kita terjebak dalam menyampaikan berita yang menyebarkan kebencian, fitnah dan hoaks. Ujungnya, saling bermusuhan.
Hati-hati, tidak asal menuduh. Yesus yang menyembuhkan orang dari kebisuan dan kerasukan setan itu dikatakan berkolaborasi dengan Beelzebul. Tuduhan ngawur dan sangat berbahaya. Tidak ada dalam tindakan Yesus yang bekerja sama dengan si Jahat. Yesus bertindak dalam kuasa Ilahi. Yesus menegaskan untuk membuka mata dan telinga pendengar, meluruskan pikiran dan membersihkan hati setiap orang, di mana saat Dia menunjukkan kuasa-Nya, pada saat itu Kerajaan Allah dihadirkan, dan menyatukan.
Semua itu sangat jelas agar kita berhati-hati, dan tidak asal menuduh. Jangan sampai, karena salah ucap dalam berkata-kata, kita membuat pribadi-pribadi di sekitar kita jadi tidak nyaman, dan memecah belah persahabatan.
Tugas kita adalah menempatkan setiap pribadi di sekitar kita benar-benar nyaman, diterima baik, dan dihargai jatidirinya. Hidup dalam persahabatan, persaudaraan, dan kesatuan yang erat.
Rm. Petrus Santoso SCJ

