MEDSOS, OGOH-OGOH & ONDEL-ONDEL
Simply da Flores
Menyendiri di temaram lampu metropolitan
aku temani malam mengembara
meluncur di samudra layar digital
terbang meraih bintang digital
Jutaan wajah bisa dijumpai
dalam aneka gaya kisah cerita
Ribuan pelosok dapat dijejaki
saksikan keanekaragaman alam budaya
Keajaiban zaman membawa perubahan
Entah bisa menjadi berkat
Entah menambah manfaat kehidupan
Entah semakin sejahterakan manusia
Entah jadi ladang pembantaian
Ada surga dan neraka ditawarkan
tergantung kemampuan menggunakannya
“Kemajuan Iptek hasil kreasi manusia
Bentuk kecerdasan akal pikiran
Berkah Rahmat Sang Pencipta
tetapi tergantung kepada manusia
Untuk apa menggunakannya
dengan pilihan dan kehendak bebasnya”
Ada sosok menarik yang dijumpai
‘Ogoh-ogoh’ dalam budaya Bali
menjelang perayaan Hari Nyepi
Berbagai sosok wajah menyeramkan
katanya simbol semua hal negatif
yang akan diarak dan dibersihkan
dari sanubari jiwa setiap pribadi
dari pikiran dan hati nurani insani
dari perasaan dan selera raga
dari alam lingkungan kehidupan
Agar
kembali dilanjutkan berkah harmoni
Harmoni dengan diri pribadi sendiri
Harmoni dengan sesama saudara
Harmoni dengan alam arwah
Harmoni dengan segenap isi semesta
Harmoni dengan para Dewata
Harmoni dengan Sang Hyang Widhi
Wow…
begitu indah dan mengagumkan
ternyata di tengah pesona pariwisata
“Ada budaya tetap kokoh kuat
dihidupi dan diwarisi masyarakat Bali
bagian Nusantara dan dunia
Dan
bisa menjadi nafas bagi peradaban
sungguh energi bagi kehidupan
dalam ritual doa sesaji sembah
yang warna-warni penuh pesona”
Sejak awal malam hingga subuh
sepanjang menyepi di jalanan ini
Sudah 13 pasang pengamen malam
bertopeng sosok ondel-ondel
Wajah lelaki gagah berwibawa
Sosok perempuan berparas cantik
Warisan kearifan leluhur Betawi
Dan
malam ini dijumpai jadi alat ngamen
oleh sosok generasi muda
Entah anak cucu masyarakat Betawi
Entah anak generasi Nusantara
Entah disewa pengamen jalanan
Tetapi…
tanda tanya bagi diri pribadiku
mengapa pilihannya ondel-ondel
dan digunakan pada malam hari
Seorang menggunakan ondel-ondel
temannya memandu dan tadahkan tangan
“Demi sesuap nasi dan air
demi anak di kolong jembatan
demi kehidupan di tempat kumuh
demi nafas hari berikutnya
Di gemerlap kota metropolitan ini”
Kepada wajah gulita malam
Aku berbisik lirih curhat
“Di tengah pesona gemerlap metropolitan
Pernah kudengar cerita Tanah Betawi
dan wilayah bumi Salak Negara
Para leluhur pemilik kota ini
Lalu…
Kisah si Pitung yang heroik
dan lagu keroncong Kemayoran
Hadirnya bandar Jakarta dan Batavia
hingar bingar pusat kompeni
Dan
Sejarah Nusantara dan perjuangan kebangsaan
hingga lahirnya proklamasi NKRI
dan sekarang Ibukota Negara Indonesia
Seperti inikah nasib rakyat Betawi
ke mana dan di mana mereka semua
Apakah setelah menjadi tungku peradaban
mereka tergusur dan terasing
di tanah warisan leluhurnya
Apakah ini yang disebut pembangunan
Inikah fakta kemerdekaan Indonesia”
Gulita malam hanya diam mendengar
Kepada angin dan bintang-bintang
Kusemat seberkas senyum banggaku
tentang ogoh-ogoh
dalam adat Bali
yang menjadi ritual dan doa sakral
yang dijaga lestari demi kehidupan
yang kokoh di tengah arus zaman
yang mempesona wisatawan meruwat diri
yang menggugat dunia untuk Nyepi
Agar
nafas semesta tetap segar lestari
desir darah alam selalu harmoni
jiwa raga manusia bermakna hakiki”
Angin menjawab membelai sejuk lembut
menghibur tanyaku yang galau
Bintang berkedip manja ingatkan
agar terus menatap Sang Mentari
sumber cahaya alam semesta
pusat energi bagi jiwa raga
Wujud kehadiran Sang Maha Pencipta
Mengiringi adzan subuh
kutulis sajak rindu damba ini
untuk kubawa menyambut hari
“Pesona semua sarana medsos
Aneka sosok ogoh-ogoh Bali
Pasangan ondel-ondel Betawi
Gulita malam di metropolitan
Nasibku dan para pengamen papa
Keputusan pejabat dan yang kaya
Adalah
Wajah Nusantara, Indonesia dan dunia
tergantung bagaimana memberi makna
Dan
Wajah gulita malam ini
serta sosok mentari esok hari
selalu berbagi memberi tanpa kecuali
sambil mencatat keputusan setiap pribadi”

