Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pada mulanya kita pun laksana seekor anak
kucing liar di jalanan hidup ini.”
(Amanat Kasih sang Kehidupan)
Siapa pun tentu mengenal kucing. Hewan unik yang tampak lembut dan cerdik bersiasat menghadapi hidup.
Siapa pun tentu sayang padanya. Bahkan ada petuah menarik berkaitan dengan hewan ini.
“Barang siapa ingin melatih dan menguji kesabarannya, maka bergurulah kepada keagresifan seekor kucing lapar, liar, dan nanar.”
Tulisan reflektif ini bertolak dari hasil pengamatan sepintas saya dari sebuah video, (Sabtu, 2/3/2024).
Tampak seekor anak kucing hitam di pinggir jalan. Dia sangat nanar dan dengan bola mata liar serta mulut meraung saat didekati.
Tapi yang mengharukan saya, justru pada sikap seseorang yang sangat peduli, sabar, akrab dan bersahabat dengan anak kucing nanar ini.
Di saat hendak disentuh dan dielus, dia agresif dan bersikap menyerang dengan mulut menyeringai.
Terdengar juga suara dari dalam video, antara lain: mungkin dia sedang kelaparan. Rupanya selama ini, dia selalu diserang oleh makhluk lain, maka dia pun selalu bersikap agresif. Ada juga yang berkata, dia masih sangat ketakutan, lihat saja pada bengis bola-bola matanya itu.
Perlahan, tapi pasti, walaupun masih tampak sikap agresifnya, dengan sepotong kain putih kumal, tubuh kurus anak kucing hitam itu dibungkus, lalu dengan berhati-hati dibawa pergi.
Setiba di rumah, dia diletakan di dalam sebuah kardus beralas serbuk kayu. Kucing hitam yang malang ini pun dibaringkan.
Sikap liarnya masih tampak nyata, walaupun ada tanda-tanda menjadi lebih tenang.
Dibutuhkan waktu dua hari, setelah diberi makan dan minum, si hitam ini mulai jinak, dan bahkan mau digendong.
Apa pandangan dan pendapat Anda terhadap kesaksian ini?
“Pada mulanya, kita pun hanyalah seekor anak kucing liar di jalan hidup ini!”
Hidup dan tata hidup ini, riil harus berproses panjang. Tidak ada hal yang sekali jadi dan segera sempurna.
Baik di saat kita menghadapi manusia, juga menghadapi makhluk lainnya. Termasuk di saat menghadapi seekor hewan, khususnya seekor anak kucing nanar.
Di dalam proses hidup sejati, sangat dibutuhkan sepotong hati yang sabar dan penyayang. Dibutuhkan sekeping naluri kemanusiaan yang berbelas kasih.
Juga dibutuhkan sekeping kesabaran mahasabar dan kepedulian mahapeduli untuk membiarkan makhluk apa pun bisa bertumbuh dan berkembang sesuai habitatnya.
Sungguh, di dalam konteks dan peristiwa anak kucing hitam nanar ini, sangat dibutuhkan sikap pemahaman, kesabaran, kelembutan, dan sikap belas kasih.
Jika Anda dan saya tidak bernaluri demikian, maaf, Anda pun segera akan merasa kecewa berat dan bersikap putus asa.
Semua ‘cap jahat dan label kurang ajar’ yang kita sematkan kepada sesama serta makhluk apa pun, rupanya juga bertolak dari misteri kelembutan sekeping hati. Sungguh, sekeping hatilah, batu ujian itu.
Jika Anda ternyata sanggup menjinakan makhluk bernanar liar, mestinya Anda lebih sanggup lagi menjinakan hati sang anak manusia!
“Aku pun telah menanamkan sekeping hati di dada sadarmu demi turut mengasihi kehidupan ini!”
Kediri, 7 Maret 2024

