Lho, apa maksudnya?
Biasanya, agama seseorang itu tertera di KTP. Tujuannya untuk kepentingan administrasi. Padahal kehidupan sehari-hari itu terserah pada pribadi itu yang menjalani.
Katanya kita ini beragama, tapi hanya asesorisnya. Semua simbol itu ada yang bisa diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari: “Kamu tidak perlu tahu, please,” begitu katanya.
Anehnya, mengaku beragama, tapi tidak pernah berdoa. Bahkan tidak bisa berdoa. Atau malah bertanya balik, ‘apa itu doa’. Lalu, apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari?
Beragama, tetapi ‘zonk’ dengan apa yang harus diimani dalam agamanya. Kadang kita tidak tahu, hidup ini mau dibawa ke mana dan ujungnya di mana. Lalu, apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari: “Yang penting kita berbuat baik”, atau “Yang penting itu hatinya.” Banyak alasan untuk pembenaran diri.
Ups, ya sudah. Beragama itu memang ada di ruang pribadi. Selamat menjalani hidup ini, apa pun agama yang tertulis dalam KTP, karena hanya kita sendiri yang tahu. Jadi, tidak usah diperdebatkan!
Catatan: Di beberapa negara tentang status agama, tidak ditulis. Ini berarti, lebih masuk di ruang pribadi.
Rm. Petrus Santoso SCJ

