Ada anggapan, bahwa seseorang yang makin beriman dan dekat Allah itu hidupnya kian berat, banyak tantangan, dan cobaan. Benarkan itu?
Saya tidak mengiyakan, menolak, menyanggah, atau ingin berpolemik dengan anggapan itu. Lebih bijak saya berefleksi diri.
Saya ingat kisah Yesus. Setelah berpuasa 40 hari, IA dibawa Roh ke padang gurun (Mat 4: 1-11). IA dicobai Iblis agar mengubah batu menjadi roti; menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah; dan kerajaan dunia ini diberikan kepada-Nya, jika mau menyembah…
Berefleksi diri itu sesungguhnya untuk mengajar dan mengajak kita agar makin rendah hati dan dekat dengan Allah.
Caranya adalah, mohon selalu penyertaan, pendampingan, dan bimbingan Roh Kudus agar kita tidak salah langkah, tergelincir ke dalam jahat, dan berbuat dosa.
Tujuan berefleksi itu agar kita tidak mudah berasumsi, beranggapan, dan menyimpulkan sesuatu dengan sesuka hati dari kacamata sendiri, apalagi untuk mendiskreditkan seseorang, misalnya.
Saat kita sakit tak kunjung sembuh, meski kita telah berobat ke banyak dokter dan berikhtiar. Apa kita disiplin ikuti anjuran dokter? Atau kita banyak pikiran, sehingga stres dan penyakit itu jadi makin parah.
Timbul konflik dalam keluarga yang berkepanjangan, hingga berujung keinginan untuk berpisah alias bercerai.
Anak sulit diatur, senang berkelahi, dan bahkan terlibat narkoba.
Ketika persoalan demi persoalan itu muncul, jangan mudah berasumsi, kita tengah dicobai Allah. Tapi coba bertanya pada diri sendiri.
Tidak seharusnya kita menilai sesuatu itu dari kacamata sendiri. Apalagi didasari suka dan tidak suka. Lebih baik, berpikir jernih dari hati yang bening.
Penyakit kita tidak kunjung sembuh, karena kita diingatkan untuk tidak memuaskan nafsu makan dan lupa diri, tapi agar makan makanan yang sehat dan secukupnya. Atau agar kita tidak membiasakan diri ke luar malam dan foya-foya, supaya dekat dengan keluarga, dan jadi pribadi yang mudah bersyukur.
Konflik keluarga itu muncul, karena umumnya di antara kita tidak ada yang mengalah, egois, dan mau menang sendiri. Kita tidak berani minta maaf atau memaafkan, ketika berbuat salah atau disalahkan. Kita kehilangan kasih pada keluarga. Sehingga hati ini mengeras, dan degil.
Berbeda hasilnya, jika suami istri itu saling mengalah, sabar, murah hati, dan mengasihi. Sehingga keluarga jauh dari konflik.
Begitu pula saat muncul masalah dengan anak. Di mana sumbernya? Mungkin kita bersikap cuwek, tidak peduli, dan kurang perhatian pada anak. Kita berpikir, yang penting kebutuhan anak dipenuhi, maka semua jadi beres.
Padahal keteladanan orangtua itu mutlak penting. Mengingatkan dan melurus sikap anak yang salah itu tugas orangtua. Bahkan, kita tidak boleh bosan mengarahkan anak ke arah yang benar, karena semua itu tanggung jawab orangtua.
Tidak ada kata terlambat untuk perbaiki diri dan jadi baik.
Sesungguhnya, apa pun konflik dan masalah yang timbul itu sumbernya dari pikiran kita sendiri. Karena kita tidak rendah hati.
Mohon penyertaan, pendampingan, dan bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah perjuangan hidup ini agar kita terarah dan fokus untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki. Sehingga kita melihat hikmat Allah di balik setiap peristiwa.
Hidup itu berhikmat agar kita rendah hati.
Mas Redjo

