“Mungkinkah seorang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?”
Waspada, kewaspadaan, atau mawas diri adalah sikap penting agar jalan kita selalu lurus di hadapan Tuhan.
Banyak sekali situasi dan kondisi di tengah kita yang membelokkan hidup kita berjalan tanpa arah yang jelas.
Situasi itu jadi lebih parah dan berbahaya, apabila orang yang menunjukkan jalan itu adalah para penyesat, orang-orang yang buta itu.
Bisa dipastikan, kita akan masuk dalam lubang, dan benar-benar tersesat.
Tindakan-tindakan preventif itu penting untuk mencegah sebelum hal buruk itu terjadi.
Waspada, kewaspadaan, atau mawas diri itu menjadi kata kunci yang ditawarkan Tuhan Yesus lewat bacaan Injil hari ini.
Hal itu langsung dirasakan, apabila kita mempunyai sikap mawas diri sebagai langkah tepat dan benar untuk mewaspadai para penghasut itu.
Lebih daripada itu, dengan bersikap mawas diri ini memungkinkan kita memiliki pemahaman, pengertian, dan wawasan baru yang mengarahkan kita pada suatu hal yang baik, dan tidak menyesatkan.
Contoh paling konkrit ada pada Santo Paulus yang mengungkapkan pengalamannya lewat kata-kata motivasinya, “… aku berlari bukan tanpa tujuan, dan aku bertinju, bukan dengan memukul sembarangan. Sebaliknya, aku melatih dan menguasai tubuhku sepenuhnya …” Itulah wujud konkrit dari sikap mawas diri.
Semoga tutur kata dan tindakan kita didasari dengan sikap yang mawas diri, sehingga setiap orang yang berjumpa dengan kita merasakan berkatnya, yaitu hidup mereka menjadi benar, dan tidak disesatkan.
Rm. Petrus Santoso SCJ

