Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Persahabatan sejati hanya terjadi di antara orang-orang yang tulus hati.”
(Amanat Cinta dan Kehidupan Sejati)
Hidup dan ikatan persahabatan sejati di antara sesama manusia adalah sebuah naluri kemanusiaan yang tidak pernah mati.
Sudah sejak hadirnya manusia di planet bumi ini, relasi persahabatan sejati antar sesama manusia pun masih terjalin.
Memang kita harus akui pula, bahwa sejak hadirnya sang cucu Adam di atas bumi sekarat ini, ternyata tidak sedikit terjadi keretakan dan permusuhan yang bahkan berakhir dengan pembunuhan terjadi di antara dua sahabat.
Bahkan di hari-hari ini, di sebuah negeri nan elok permai ini, juga terjadi aksi brutal, kisah pengkhianatan secara politis yang sungguh mengerikan di dalam tubuh anak bangsa.
Dari balik alunan kepak sayap sebuah realitas, di antara manis dan pahitnya sebuah jalinan persahabatan sejati, kepada kita disuguhkan sebuah kisah bermakna yang sungguh interisan.
Kisah indah ini berasal dari Negeri Tirai Bambu, China.
Dulu, hiduplah dua orang sahabat sejati. Yang seorang adalah seniman harpa dan yang seorang, pendengar setia alunan harpa sang sahabat.
Suatu ketika, saat sahabat itu memainkan harpa yang mengisahkan indahnya alam gunung, berucaplah sahabatnya itu, “Aku, seolah-olah sedang melihat sebuah gunung dengan mata kepalaku.”
Di lain waktu, tatkala sahabat itu kembali memainkan harpa dengan lagu bertemakan air sungai, maka berkatalah dia, “Sahabatku, aku kini, seolah-olah sedang melihat liukan air sungai mengalir lepas di depan mataku.”
Namun, di suatu ketika, sahabatnya yang pendengar setia dan selalu duduk di bawah kakinya itu pun berpulang, setelah jatuh sakit.
Apa yang terjadi dan tindakan apa yang dimainkan oleh sang seniman harpa itu?
Segera, seketika itu juga, ‘diputuskannya senar harpanya’.
Sejak saat itu, dunia mengenal dan mengenang, bahwa ‘tindakan memutuskan senar harpa’ adalah tanda sebuah ikatan persahabatan sejati.
(Secangkir Teh, editor Y. Rumanto, S.J.)
Sungguh mengesankan kisah indah persahabatan ini.
Ada dua sosok pribadi yang saling mengasihi. Keduanya mengambil posisi berbeda, namun mampu saling memahami dan bahkan mampu menginspirasi hidup mereka.
Layaknya sebuah tindakan kesejatian, yang terlahir dari kejernian hati, maka orang tidak pernah akan ragu untuk bersikap.
Maka, bersahabatlah di dalam kisah indah, saling memberi dan menerima!
Bersahabatlah di dalam ketulusan hingga maut itu memisahkan!
Kediri, 6 Maret 2024

