Simply da Flores
Dari luka raga Jawa Dwipa
Ratusan jejak sejarah kekuasaan
telah dikemas, dipatri dan ditulis
seperti mahkota ratu raja
juga perhiasan, keris dan senjata
kisah cerita tradisi sayang
Dan
pada puncak bangunan waktu
berkilau monumen keemasan
yang terbangun dari lara derita
yang tertoreh air mata darah
sejak zaman leluhur dan penjajah
hingga zaman kemerdekaan NKRI
“Tetapi banyak fakta tertelan zaman
tergantung siapa penulis sejarahnya”
Dari angin nalar Bukit Barisan Sumatera
Gerbang pintu barat negeri
arah datangnya banyak pengaruh luar
Tersimpan di bukit memori peradaban
di Serambi Mekah dan Tapak Tuan
dari istana Toba hingga ke Krakatau
Sudah diabadikan sosok kebudayaan
Cerita perjuangan para leluhur
menenun makna waktu cahaya
merajut gelombang menenun angin
pada jiwa raga anak generasi
Di setiap jengkal belantara nafas kerinduan
hingga ke tepi samudra harapan
“Mereka pun menulis dengan telapak bilur berdarah
Mereka melukis tulisan dengan jemari air mata luka”
Dari relung sanubari Papua
Ujung Timur gerbang Nusantara
pelataran istana Sang Fajar
Kasuari berdiri kebingungan melangkah
Cendrawasih diam bisu linglung bersenandung
Lantaran luka parah alam lingkungan
Ketika generasi kehabisan air mata
Saat putra-putri nya mati merana di tengah kelimpahan sumber alamnya
Dan
bertebaran pusara tak bernama
yang terlantar penuh debu dan daun kering
Entah pahlawan atau GPK dan teroris
tergantung yang mengatakannya
“Bahkan
kebanyakan diam takut bersuara
hingga tak tahu siapakah dirinya
Mengapa terlahir di tanah ini
Papua … o, Papua”
Dari senandung Damba Maluku
gelombang samudra hentak menghempas
Ikuti irama cakalele dan bambu gila
Gemuruh tifa ditabuh bergema
dengan ikat kepala warna merah
pekikan damba makna kehidupan
Merebak harum rempah-rempah alam
yang datangkan pedang dan senjata
Birahi para koloni asing
untuk menguras kekayaan alam
sambil membungkam damba sanubari
Pecahkan heroik bambu gila
merantai hentak langkah cakalele
Bahkan
Pela gandong ingin dienyahkan
agar dansa pesta pora Barat semarak
di antara bunga cengkeh dan pala
serta jemari menguras brankas mineral
juga dompet harta di lautan
“Anak-anak Maluku berbondong merantau
Tinggalkan kampung halaman tercinta
memburu emas di negeri orang
Dibohongi lupa harta warisan leluhur
dan Surga di tanah lahirnya”
Dari nyanyian Rindu Nusa Tenggara
Pesona Bali pulau Dewata
memeluk putra-putri semesta
untuk sujud sesaji sembah
dalam ritual doa jiwa raga
untuk melahirkan damai harmoni
bagi sesama di tengah semesta
Dewi Anjani tersenyum menjaga
alam Lombok Sumbawa
dan
Denting Sasando iringi derap Pasola
serta desah Naga Komodo
menjaga tri warna mustika alam Kelimutu
dalam semerbak wangi Cendana
Sorot Mata Generasi Muda Tenggara
selalu tajam seperti mentari
“Katakan benar jika benar
Katakan salah jiwa salah
Mereka jalankan amanah leluhur
menjadi putra fajar putri cahaya”
Dari gelombang rasa Sulawesi
Mantra para leluhur ditanamkan
“Nenek-moyangmu adalah pelaut
Samudra itu Ibu Kehidupan
Segala isi lautan sanak saudaramu
berlayarlah ke delapan penjuru
tulislah sejarah kehidupan bahari
Lukislah peradaban Baruna perkasa”
Dan
dengan sampan atau perahu Pinisi
bahkan berkelana telanjang kaki
Jejak generasi Bajo Selebes
telah tegakkan tonggak sejarah
di aneka pulau dan benua
sebagai rumah nafas bahari
dengan sejuta cerita kemanusiaan dan kisah kehidupan
pada halaman pantai dan lautan
“Kita sesama saudara manusia
Rahim Ibu Samudra mempersatukan
dengan sinar kasih sayang mentari”
Dari nurani Belantara Kalimantan
ada diam yang bergerak lincah
ada sunyi yang mengembara perkasa
Anak-anak Panglima Burung
Generasi Dayak pewaris Borneo
menjaga jalur cinta kathulistiwa
Agar edar langkah mentari lestari
untuk menyinari seluruh semesta
Agar alam Kalimantan terselamatkan
dari nafsu keuntungan bisnis belaka
karena disini nafas Nusantara
Ada luka dan bisul berdarah
yang terus diobati ramuan alam budaya
semoga segera pulih sembuh
karena jiwa raga waras bijaksana
“Ibukota Nusantara bagi NKRI
jika dibangun dengan doa dan cinta
dalam ritual kebetulan tanah dan air
Akan menjadi tonggak sejarah bangsa
meraih puncak sinar mentari
bagi cita-cita Proklamasi
Tetapi…
segera jadi Mandau sakti
yang tumpahkan darah cincang raga
Jika ritual doa hanya sandiwara
demi selera kuasa dan harta”
Hari ini…
Dari titik nol Merauke Bumi Cendrawasih
hingga ujung Sabang Serambi Mekah
cahaya mentari tetap bersinar
dalam sejuta tanya tak bertepi
Dari Mianggas sampai pulau Rote
deras gelombang lautan damba
tetap bergelora menggugat fakta
Atas keluhuran warisan budaya bangsa
Atas semboyan bhineka tunggal Ika
Atas kibar pusaka merah putih
Atas wibawa jiwa sakti Pancasila
Atas cita-cita Proklamasi NKRI
Atas Luber Jurdil Pemilu
sebagai pelaksanaan kedaulatan rakyat
Atas sandiwara penguasa rakus
yang dikendalikan pemodal tamak
untuk mempermainkan hukum dan hak rakyat
untuk menguras sumber daya alam
demi selera pribadi dan kelompok
Atas budaya korupsi beranak pinak
para pemain politik dan semua kroninya
sehingga menjadi penjajah atas saudara sebangsa dan setanah air?
Dan hari ini…
segenap anak-anak negeri
Pewaris Nusantara pemilik NKRI
Menyatu dengan alam menjerit
Bersekutu dengan leluhur menggugat
Mengadu kepada Bunda Samudra
Memohon kepada Ibu Bumi Pertiwi
Berdoa kepada Bapa Langit
Agar
diberkahi kesehatan jiwa raga
diberikan kewarasan dan kebijaksanaan
dianugerahkan iman dan moralitas
Kepada segenap warga bangsa ini
Semoga alam kembali dipulihkan
dari berbagai sampah dan polusi
dari aneka kerusakan pertambangan
dari maraknya degradasi lingkungan
dari limbah industri dan tailing
Sehingga
kehidupan kembali harmoni
Keadilan dan kebenaran semakin nyata
Kasih sayang persaudaraan bersinar
Di tanah air Indonesia tercinta
Di bumi Nusantara yang kaya
“Bersatunya jiwa raga utuh sahaja
Manunggalnya pribadi multi dimensi
Selarasnya kata dan perbuatan
Karena raga sehat walafiat
Karena nalar waras cerdas
Karena emosi matang dewasa
Karena nurani etis bermoral
Karena jiwa beriman taqwa
Tak ada tipu-tipu di negeri ini”

