Untuk yang kesekian kali, bisik-bisik itu mengusik ketenanganku. Aku mencoba untuk menerima realita itu, meski dadaku menyesak dan nyeri.
Ada orang mengatai dan menyebut aku sebagai orangtua yang gagal dalam mendidik anak!
Bagaimana tidak. Anakku yang semata wayang itu hendak pindah agama, karena mengikuti calon istrinya.
Padahal aku seorang aktivis gereja. Begitu pula dengan keluargaku.
Untuk menanggapi kenyataan pahit itu aku tidak reaktif menyanggah, membela diri, atau menyalahkan mereka yang nyinyir.
Aku mencoba bersikap tenang, dan refleksi diri seperti waktu pertama anakku secara tiba-tiba meminta restu untuk menikah!
“Memang tidak ada gadis yang lain, Le? Apakah sudah kau pikir baik?” komentarku seperti kutujukan pada diri sendiri.
Sejak kecil aku telah mengenalkan dan mengakrabkan anakku dengan lingkungan gereja agar kelak ia juga jadi aktivis dan menemukan jodoh gadis yang seiman.
Kedekatan antar anggota keluarga itu juga kubangun lewat komunikasi yang baik, dan kami membiasakan berdiskusi untuk mengakrabkan hubungan itu.
“Apa karena sejak ditinggal Ibunya berpulang itu anakku berubah?” kataku pada diri sendiri.
Aku ragu. Karena sepeninggal istri, aku juga mengurangi kegiatanku demi anak. Aku selalu menyediakan waktu untuknya. Apakah anakku telah melangkah jauh…?
Banyak pertanyaan tanpa jawaban mengaduk-aduk benakku.
Jujur, yang membuat aku tertekan dan sulit menerima kenyataan adalah, karena anakku menikah di luar gereja. Kenyataan pahit itu menampar harga diriku. Bagaimana reaksi teman-temanku mengetahui hal itu?
Karena anakku keukeh dengan pendiriannya itu, aku mencoba berbesar hati untuk tidak mencari atau menyalahkan orang lain. Meski hati ini serasa diiris-iris.
Aku hanya bisa mengadu pada Allah. Memohon ampun pada-Nya, karena aku telah gagal mendidik anak.
Berserah dan mencoba ikhlas itulah hari-hari ini yang tengah kujalani. Aku juga mencoba mencari hikmah di balik peristiwa itu. Apa rencana-Nya?
Di saat berbeban berat itu, aku seperti diingatkan oleh orang-orang suci yang berserah ikhas dengan doa-doanya. Di antaranya, St Monica yang bertekun dalam doa selama bertahun-tahun untuk pertobatan anaknya.
Aku sadar sesadarnya. Ketika kita berani dan rela berserah ikhlas pada Allah. Berdoa ikhlas itu tidak menuntut, tapi kita berani dan rela untuk menyerahkan sepenuhnya pada kehendak Allah.
Sesungguhnya, kita diuji untuk taat dan setia pada-Nya!
Mas Redjo

