Simply da Flores
Terdengar mengalun sendu menggoda
lintasi gunung bukit lembah
lewati udik desa dan kota
Nyanyian hujan akhir pekan
lagu senandung alam semesta
Ada yang lebat mengguyur
Ada yang biasa saja menyiram
Ada yang hanya rintik mendung
“Sang Pemilik hujan bernyanyi
dengan nada dan iramanya
dengan syair dan pesannya
Masing-masing boleh bereaksi
entah disukai atau biasa saja
entah menghibur atau bising…”
Menyusuri Ibukota metropolitan
saat hujan mengguyur deras
nyanyian alam yang bersenandung
Debu jalanan disibak menepi
Polusi bising kota dihalau pergi
Sampah jalanan terbawa ke selokan
Panas terik cuaca diredam
Bau tengik got dienyahkan
Lantaran ulah tangan manusia
penghuni kota yang sibuk berkelahi
Mencakar waktu meraih asa
Memutar roda keinginan kebutuhan
Mengejar harap meraih damba
Mengubah mimpi jadi kenyataan
“Perjuangan hidup zaman milenial”
Kudengar berita dari kampung
Ternyata hujan tidak merata
ada yang sekilas lewat
sehingga petani kebingungan di ladang
benih ada yang belum tanam
Ada yang rusak kekeringan
dan harapan panen sirna
karena musim kini tak pasti
Nyanyian hujan terasa getir
nada dan iramanya meresahkan
Di tempat lain dialami menggentarkan
hujan berirama rock dan metal
datangkan banjir dan longsor
“Ternyata alam punya musik khas
tidak selalu sesuai selera insan
Entah apa alasan nada iramanya
Entah apa maksud syair lagunya
Entah mengapa demikian jadinya”
Lewati tengah malam di metropolitan
lampu warna-warni terus menari
hiasi jalanan dan gedung-gedung
juga ruang pesta dan hiburan
Namun…
pengunjung tidak seramai biasanya
karena baru selesai hujan
karena harga beras meroket
karena lelah aksi demonstrasi
karena hasil final KPU belum diumumkan
karena sikon politik gonjang ganjing
Atau
masih seribu alasan lain
“Metropolitan sedang getir galau
Adu strategi demi kepentingan
oleh mereka yang piawai
urusan politik, ekonomi dan informasi
Juga soal hukum, agama dan senjata”
Nyanyian hujan akhir pekan
terus bergema mengalun syahdu
dengan irama nada alam jagat
dengan syair makna semesta
menyebar ke seluruh wilayah negeri
dengan dampak dan reaksi berbeda
Anak negeri pun berbeda reaksinya
sesuai kebutuhan dan seleranya
seturut kepentingan dan lokasinya
Musim hujan tahun ini
dalam kenyataan yang terjadi
bisa disebut musim pancaroba
Sehingga mengubah banyak keadaan
baik di kebun ladang petani
entah di kampung dan di kota
Juga untuk aktivitas perjalanan
Bahkan
dalam semua bidang kehidupan
Ketika menulis sajak ini
di trotoar Bundaran Hotel Indonesia
kudengar bisikan burung malam
“Nyanyian hujan dan alam lingkungan
pasti berpengaruh bagi manusia
Karena
manusia tergantung pada alam
dan tak berdaya tanpa lingkungan”
Nyanyian hujan akhir pekan
kudengarkan dari jantung metropolitan.
terasa berbeda dengan di kampung
“Mungkin di metropolitan ini
banyak warna-warni lampu
jutaan hingar-bingar pesona
pusat segala kuasa dan harta
Atau…
karena aku yang kebingungan”

