Menjalani hidup sederhana itu tampak sulit di tengah hiruk pikuk masyarakat yang terus berubah oleh modernitas. Tiap hari selalu ada hal baru, teknologi canggih, inovasi dalam berbagai bidang yang sulit untuk diabaikan.
“Hidup ini sesungguhnya sederhana. Yang membuat rumit adalah cara pandang yang tidak apa adanya.” – Jlitheng
Oleh karenanya, hiduplah apa adanya. Sebab yang apa adanya adalah jalan tercepat untuk menata hati di tengah riuh rendah hidup hari ini.
Memiliki hati yang lapang dan dalam itu karunia yang mendamaikan, ketika bisa berdiri kokoh dengan seluruh kebahagiaan, dan menatap kesibukan sekitar, menjalani hidup bersama keluarga dan sahabat tercinta
Keajaiban itu hadir dengan cara-cara yang biasa. Lewat matahari yang terbit setiap hari, lewat embun pagi pada dedaunan seberang jendela, pada sayap kupu-kupu yang berwarna-warni, gemerisik angin yang menggoyang daun-daun kering, dan pada kekuatan cinta orang-orang terkasih di sekitar kita.
Sederhana itu bukan karena miskin. Sederhana adalah sikap hati, yang menerima diri dan dunia sekitar tanpa berlebih, tidak menuntut dan mengeluh. Dengan demikian, damai yang hadir itu meneduhkan.
Seorang kakek, ketergesaan dia tertangkap oleh penjual mie ayam. “Koq seperti tergesa-gesa, mau ke mana, Mbah?” tanyanya.
“Mau ke panti jompo, bawa mie ini ke sana. Khawatir istri nunggu kelamaan,” jawab Kakek itu.
Setiap tengah hari Kakek itu ke panti jompo, menyuapi istrinya yang terkena alzeimer. Walaupun isttinya tak ingat lagi , ia selalu senang disuapi mie ayam kesukaannya. Yang dilakulan Kakek itu biasa saja, tapi daya cintanya … keajaiban bagi keduanya.
Salam sehat dan tetap sekata berbagi cahaya.
Jlitheng

