Simply da Flores
Hari ini Jumat 1 Maret 2024
saya menghirup nafas metropolitan
Antara pelataran Monumen Nasional
lalu berputar di depan Istana
perlahan melangkah ke Istiqlal dan Katedral
Dan
duduk di halte penyeberangan toleransi
Sungguh…
wajah Jakarta sudah jauh berbeda
dengan saat saya mengamen dulu
antara Pasar Baru ke Blok M
antara Grogol ke Senen
antara Cililitan ke Kota
Melintasi Monas pagi hari
banyak yang sedang olahraga
dan sejumlah pemulung sibuk bekerja
mengumpulkan botol plastik minuman
juga kardus dan spanduk
“Katanya kemarin ada demo
di sekitar patung kuda air mancur
tentang kecurangan Pemilu 2024
yang akan dilanjutkan ke DPR
untuk mendukung hak angket”
Kulihat wajah taman Monas
diam, asri tapi penuh tanya
Emas di puncaknya berkilau
Istana Negara nampak lengang
mungkin sedang dikemas jawaban
agar tanya rakyat terjawabkan
agar pemakzulan Presiden dihentikan
agar hajatan politik dipurnakan
agar bertambah gelar kehormatan
agar merah putih berkibar lagi
agar wajah Garuda tegak berdiri
agar NKRI melangkah pasti
agar demokrasi bukan the-most-crazy
Suara adzan bergema dari Istiqlal
memanggil umat muslim beribadah
Menghadap Sang Maha Kuasa
pasrahkan suka duka kehidupan
termasuk soal sembako mahal
juga kondisi kehidupan bangsa
Serta persiapan menjelang puasa
dalam sujud iman dan taqwa
Kulihat dan kagum
sesama saudaraku umat muslim
melangkah penuh harap dan sahaja
menuju Istiqlal untuk beribadah
“Saat penuh rahmat istimewa
menjalin relasi insani Ilahi
menyembah Sang Maha Suci
Allah yang Agung
Maha Pengasih dan Penyayang
Maha Adil dan Bijaksana
Sumber jawaban segala tanya”
Menyeberang ke halaman Katedral
ada sayup suara kidung
rupanya ada yang sedang ibadah
Renungan kisah sengsara Yesus
Sang pemuda Nazaret memikul salib
Yang dihukum karena dituduh melawan tokoh agama dan penguasa Yahudi
Yang disiksa dan memikul salibnya
lalu dibunuh keji di Golgota
“Ia harus mati disalibkan
karena menghujat Allah dan Kaisar
Menghasut rakyat melawan pemerintah
serta menimbulkan kekacauan publik”
Itulah tuduhan kaum Farisi dan pengikutnya
dan ada yang menyuruh melakukan itu
karena kepentingan kuasa dan gengsi
Tetapi,
Yesus yang disalibkan sebagai penjahat
Dipercaya dan diimani Penebus
terus bertambah pengikut-Nya hingga hari ini
“Waktu mencatat kebenaran hakiki
Meski manusia berusaha merekayasa
Apalagi berjuang menghilangkan fakta
dengan kuasa dan senjata
atau uang dan harta benda”
Antara Monas dan Istana Negara
terpatri jiwa dan prinsip NKRI
Tertulis sejarah perjalanan bangsa
sejak zaman para leluhur
Tersimpan sejarah kerajaan Nusantara
dan sejarah zaman kolonial
Tegak berdiri jadi saksi
Tonggak perjuangan kemerdekaan bangsa
Lahirnya kesepakatan merdeka NKRI
serta dinamika mengisi kemerdekaan
Dan
saat ini Pemilu 2024
dengan segala gaya dan warnanya
“Segala kreasi kepentingan manusia
Entah dengan kuasa dan jabatan
Entah dengan uang dan senjata
Entah hanya suara dan air mata
Entah dengan doa sahaja papa
Semuanya terekam matahari dan bumi
Benar itu benar
Salah itu salah
Rekayasa dan tipu muslihat
hanya sementara tak berdaya
Waktu pasti menyingkap semuanya”
Antara Monas dan Istana
berseberangan Istiqlal dan Katedral
Memang ada jarak memisahkan
ada jalan kereta membentang
Urusan politik sosial budaya ekonomi
berbeda dengan hal iman keagamaan
Meskipun manusia satu pribadi
di antara sesama saudara insani
di tengah alam semesta
di hadapan Sang Maha Kuasa
Tetapi
sebenarnya hakikat sama citra Allah
Berjuang penuhi kebutuhan hidupnya
selalu dalam totalitas pribadi
Menulis sejarah keputusan dirinya
dalam keutuhan jiwa raga
Entah saat jabatan kuasa politik
Entah waktu jalankan bisnis
Entah dalam urusan sosial budaya
Entah dalam hal privat keluarga
“Kecanggihan manusia dengan pikiran
Tidak pernah bisa menganulir
Relasi ketergantungan dengan sesama
Relasi mutlak dengan alam
Dan
Ketidakberdayaan di hadapan Sang Pencipta”
Hari semakin siang dan panas
roda pertarungan metropolitan menggilas
Perkelahian polusi kepentingan sengit
Cuaca dan ketakpastian terus menggeliat
Kawanan burung-burung beterbangan
antara puncak Istiqlal dan Katedral
lalu berhamburan ke taman Monas
tetapi takut masuk Istana
mungkin karena ada penjagaan
Saya lepaskan lelah di Monas
sambil nikmati air es di plastik
melirik apa yang terjadi di sana
Ada sekawanan merpati berlari
dari DPR Senayan ke Monas
lalu bersama kawanan pipit ke Istana
“Mereka mengantar air mata rakyat pemilih
yang mengalami kedaulatannya tersobek
Mereka mengantar darah para korban
yang hak ulayatnya tergusur
Mereka menggugat pemimpin Parpol
serta para pemilik modal
agar waras sadar bijaksana
Mereka mengantar nasib NKRI
yang prinsip dan jiwanya dikhianati
Mereka menggugat dan menagih
penegakan hukum jujur adil
dan pelaksanaan pemilu Luber
Kepada Presiden pemimpin pemerintahan
agar segera bangkit dan berjalan lurus
Melakukan mandat tugas kepercayaan rakyat
demi NKRI dan bangsa Indonesia”

