Salib itu ada di pundak kita masing-masing. Semakin kita bisa merasakan betapa beratnya salib itu, maka semakin terasa panggilan kita sebagai murid Tuhan Yesus. Jika kita tidak pernah merasakan beratnya salib dalam kehidupan ini, maka panggilan kita sebagai murid Tuhan Yesus belum ‘teruji’.
Itulah faktanya, ketika kita sungguh merasakan betapa beratnya salib yang kita bawa, maka pada saat itulah terjadi transformasi dalam diri kita. Kita bisa merasakan pengalaman Simon dari Kirene yang mendapatkan ‘berkat’ untuk merasakan salib yang berat itu untuk dibawa sampai ke Puncak Kalvari, di mana penderitaan itu makin berat.
Sesungguhnya, salib dan pemurnian adalah perjalanan rasa yang terjadi pada diri ini. Kita harus merasakan setiap pengalaman penderitaan salib itu menuju kepada transformasi hidup sebagai murid Tuhan Yesus yang kuat dan bisa diandalkan.
Cinta kepada salib adalah cara kita untuk terus-menerus merasakan penderitaan Tuhan Yesus yang telah memberikan cinta-Nya secara total untuk kita.
Jalan salib, jalan keselamatan menuju hidup bahagia.
Rm. Petrus Santoso SCJ

