Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jangan meludah di piring nasimu sendiri.”
(Peri Bahasa Bangsa)
Tulisan reflektif ini diangkat bertolak dari pengalaman nyata hidupku sendiri. Juga bertolak dari sebuah motivasi yang diperoleh via media hand phone.
Di saat saya pernah menjabat sebagai Kepala Sub Perwakilan dan juga sebagai Kepala Sekolah di sebuah lembaga, yakni Yayasan Pendidikan, saya sering mendengar atau masukan dari pihak lain, bahwa ada karyawan yang mengeluh, bahkan sempat mencaci maki lembaga tempat kerjanya sendiri.
Hal ini tidak berarti, bahwa tindakan karyawan yang mencemooh lembaga tempat kerjanya sendiri adalah salah atau apalagi haram. Tidak!
Tulisan ini tidak lebih sebagai refleksi manusiawi bersama. Bahwa hal itu, memang ada dan bahkan sering terjadi.
Kondisi miris, karena rasa kecewa, tidak puas, dan marah dari karyawan adalah hal yang lumrah dan dapat terjadi di mana pun.
Lewat peristiwa ini, ada baiknya kita jadikan sebagai sebuah koreksi internal. Sambil kritis bertanya, “Apakah sudah prima, kualitas layanan dari kedua belah pihak?”
Dalam konteks ini, ada sisi positifnya, jika Pihak Pengelola Lembaga, justru rela menampung keluhan dan kritikan itu dengan sikap terbuka untuk menerima dan merenungkan, mengapa sampai terjadi hal seperti ini.
Bisa jadi koreksi terselubung ini, justru ada benarnya. Artinya, pihak Pengelola Lembaga telah bersikap lalai, tidak adil, dan tidak manusiawi di dalam pelayanan terhadap para karyawan.
Artinya kedua belah pihak sebaiknya bersikap legowo, transparan, dan ikhlas jika ternyata, keluhan serta kritikan itu atas dasar fakta pincang di lapangan. Begitu pula dengan pihak karyawan, jika ternyata belum prima dalam pelayanan.
Sebaliknya, jika lontaran kritikan dan keluhan terselubung itu berupa sebuah sensasi dan atas dasar rasa tidak suka pribadi, agar segera dikoreksi serta dimaafkan.
Alangkah baiknya, jika karyawan itu koreksi diri berdasarkan peri bahasa, “Jangan meludah di piring nasimu sendiri.”
Artinya hendaklah kita selaku karyawan jangan selalu menjelek-jelekan lembaga tempat kerja kita sendiri.
Mari belajar untuk menghargai lembaga kerja kita, sekali pun nyata, bahwa Pengelola Lembaga itu belum mampu memenuhi seluruh harapan kita.
Ada sebuah ajakan yang sangat menarik, “Lebih baik kita sibuk bekerja, daripada sibuk mencari kerja.” Semoga kita pun mampu menangkap makna dari petuah ini.
Mari kita bersikap ikhlas, setia, dan rela berkorban demi kemajuan serta tumbuh kembang lembaga kerja kita. Karena “lembaga kerjaku adalah istanaku.”
Kediri, 28 Februari 2024

