Alarm itu penting dan sebagai tanda. Ada alarm yang dipasang di ruangan atau pabrik agar ketika ada kepulan asap, alarm itu segera berbunyi, karena tanda bahaya kebakaran.
Begitu pula dengan alarm tubuh ini. Ketika timbul gejala sakit, alarm itu mengingatkan kita untuk direspon dan ditanggapinya dengan segera untuk minum obat dan beristirahat. Supaya sakitnya tidak kasip dan makin memburuk.
Untuk merasakan dan tahu, bahwa alarm tubuh itu normal, kita belajar mengasah kepekaan dan peduli membaca sinyal itu agar tidak bersikap cuwek dan masa bodoh. Karena lebih baik itu mencegah ketimbang mengobati sakit, dan menyesal belakangan itu juga tidak ada gunanya.
Alarm tubuh itu hendaknya dijaga dan dirawat kepekaannya dengan seksama agar berfungsi dengan baik. Apabila kita abai dan tidak peduli, berarti kita rugi sendiri dan akibatnya lebih parah lagi, jika kita hilang rasa atau mati rasa.
Ketika kita alami mati rasa berarti kerja sistem dalam tubuh ini jadi tidak normal. Lebih parah lagi, jika alarm itu rusak dan itu bahaya.
Satu-satunya jalan agar sistem alarm tubuh normal kembali adalah kita butuh pengingat atau minta diingatkan.
Semisal kita tidak mempunyai ‘tepa slira’, menjaga perasaan orang lain. Membuang sampah sembarangan, meski tersedia bak sampah. Parkir mobil menghalangi pintu rumah orang, mengendarai motor di trotoar pejalan kaki, dan sebagainya. Untuk menertibkan itu penting dibuat pengumuman sebagai pengingat, atau dihukum denda bagi yang melanggarnya. Sehingga tidak diulangi lagi.
Selain itu, sakit penyakit itu juga bukan hukuman, melainkan sebagai pengingat, bahwa Allah mengasihi kita. Bahwa di balik peristiwa itu tersembunyi hikmat-Nya agar kita menjaga kesehatan dan mudah bersyukur.
Dengan selalu bersyukur adalah alarm sejati agar hubungan kita makin dekat Allah, dan bahagia.
Mas Redjo

