Jika yang dipakai untuk mengukur sesama manusia dasarnya adalah kemurahan hati Allah, maka hal itu melampaui apa yang menjadi penilaian manusia. Setiap pribadi itu ditempatkan kepada nilai yang tertinggi, yaitu pada keluhurannya. Tidak bisa dinilai sebelah mata atau dibatasi dengan penilaian-penilaian pribadi yang justru kadang ‘totally’ salah. Misalnya, menurut kacamata manusiawi, dengan spontanitas mata, hati dan pikiran kita menilai, ternyata apa yang kita lihat, rasa dan pikirkan itu berbeda dengan yang dialami oleh pribadi yang kita nilai itu.
Sering sekali, kita cepat menilai, sehingga secara spontan juga, orang bisa menilai kualitas dan kebiasaan kita itu. Lalu disebut senjata makan tuan atau “menepuk air di dulang, terkena muka sendiri.” Yang jelas, hukum sebab-akibat secara alami terjadi.
Hal-hal inilah yang disebutkan oleh Yesus dalam Sabda-Nya hari ini terkait dengan soal mencintai atau menghakimi. Semua bisa diukur dari yang kita lakukan itu. Jika hal-hal yang tidak bisa diukur dengan ukuran-ukuran secara manusiawi, ya, kita menggunakan ukuran dari Allah, yaitu kemurahan hati. Jika dasar dan pijakannya ini, maka menjadi sempurna tanpa ada batas-batas lagi. Yang dituju adalah keselamatan jiwa-jiwa dan yang disempurnakan adalah keluhuran jatidiri manusia. Siapa pun yang hidupnya mengalami kemurahan hati Tuhan, berarti dia mengalami cinta yang sempurna. Sebab, Tuhan sungguh amat baik bagi dirinya.
Tugas kita, jika mau memperlihatkan kemurahan hati Tuhan secara nyata, mari kita mendasarkan tindakan-tindakan kita dari pijakan kemurahan hati Allah, tidak berdasarkan pada hal-hal yang spontanitas, yang menurut kita baik atau tidak baik. Sejauh yang kita tahu, dari pengalaman yang spontan-spontan ini banyak salahnya. Sehingga kita sering dibuat malu, karena terlalu cepat menilai dan menghakimi.
Stop menghakimi. Jadilah pribadi yang murah hati!
Rm. Petrus Santoso SCJ

