Guru Bijak mengamati beberapa cantrik yang tengah berdiskusi itu. Sesekali ia manggut-manggut, tersenyum, tapi tidak berkomentar atau menanggapi.
“Guru, apa pun pelayanan bidang yang ditekuni itu harus profesional. Jika keprofesionalan itu tak dihargai dengan materi, kita harus bersikap bagaimana?” tanya seorang cantrik yang duduk di depan.
“Kita harus bedakan. Profesional itu dasar dari hati untuk melayani. Tapi apa benar materi itu jadi tujuan?”
“Maksudnya…”
“Apa yang dilihat itu belum tentu benar. Jangan berprasangka buruk. Tiap pribadi itu mempunyai hak, dan harus dihargai.”
Para cantrik itu beradu pandang.
Guru Bijak tersenyum. Ia memberi contoh seorang yang membuka rumah pengobatan tradisional yang tidak memasang tarif, tapi menerima kotak sumbangan suka rela.
“Coba kalian lihat, Mas SR yang membuka rumah pengobatan di perempatan jalan itu. Ada juga dokter yang mematok biaya pengobatan Rp 10.000,- Padahal harga obat mahal. Bahkan pasien Mas SR dan dokter itu meluber dan antri. Mereka juga ikhlas memberi ongkos pada pasien yang tidak mampu.”
“Jika ada seorang profesional yang mematok harga, karena jadi nara sumber, misalnya. Itu juga hak mereka. Tapi ada juga orang yang berbagi itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Jadi, jauhi prasangka buruk dan menghakimi.”
“Penghargaan itu tidak melulu dinilai dari besar kecilnya materi yang diterima. Karena ada juga orang yang merasa diapresiasi, jika ilmunya diadobsi dan berguna bagi sesama.”
“Alangkah bijak, kita berefleksi diri. Tak ada guna komplain, ngedumel, atau menyesal. Profesionalisme itu komitmen yang tidak bisa digugat dan sumbernya dari hati. Dengan profesionali kita melayani dan memberikan yang terbaik demi kepuasan pelanggan.”
“Bagi orang yang mudah bersyukur itu mereka yang mengengelola anugerah Allah secara profesional untuk memuji & kemuliaan-Nya.”
“Melayani secara profesional dan ikhlas itu pilihan hati.”
Mas Redjo

