Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ini bukan pidato politik, ini pidato nurani. Ini tanggung jawab saya sebagai anak bangsa.”
(KH Zainuddin MZ)
Mungkin masih banyak orang yang mengingat, akan kepiawaian dalam berkhotbah, dari sang Kiyai kondang, KH Zainuddin MZ?
Pada suatu kesempatan, beliau pun lantang berpidato dengan gaya oratornya tentang kekecewaannya terhadap sistem serta hasil pendidikan kita di Indonesia.
Pidato beliau :
“Sistem pendidikan kita cuma mengisi otak dan bukan sebagai pembentuk watak. Otak diisi dengan segala macam ilmu pengetahuan, tapi hati kosong.
Indonesia kita akan bangkrut, Indonesia kita akan terpuruk, Indonesia kita kini pun telah sakit.
Dampaknya kita punya banyak orang pintar, tapi tidak benar. Akhirnya agama kita pun rapuh serta moral kita rendah.
Ini bukan pidato politik, tapi ini pidato nuraniku, tanggung jawabku sebagai anak bangsa.”
Pendidikan alias edukasi, berasal dari akar kata “ex dan ducere,” yang berarti proses menarik ke luar atau memimpin seluruh potensi dari dalam diri siswa.
Hingga titik ini, negeri kita sebagai sebuah bangsa besar keempat di dunia, tapi justru menduduki posisi sebagai juru kunci dalam hal kemampuan literasi dan numerasi di dunia.
Sistem pendidikan kita yang gonjang-ganjing dengan terus berganti kurikulum, justru berdampak sebagai pendidikan yang menghasilkan air mata.
Sungguh, pendidikan kita justru membuat kita sebagai bangsa pun kian terpuruk. Pendidikan yang tidak menghasilkan manusia berkualitas secara mental moral.
Ya, inilah dampak negatif dari pendekatan model pendidikan yang terlampau mendewakan kecerdasan nalar semata.
Kini, lembaga pendidikan kita kian sibuk bergulat dan berkutat lewat kurikulum merdeka yang konon, sebentar lagi akan berubah nama menjadi pendidikan nasional.
Hingga saat ini, “apa hasilnya, bagaimana dampak serta jadinya, dan akhirnya bagaimana kelanjutannya?”
Saudara,
Ingatlah selalu pada esensi dasar pendidikan manusia!
Non Scholae Discimus, sed Vitae!
Kediri, 26 Februari 2024

