“Biarlah masa lalu berlalu, karena yang lebih indah sudah menunggu.” – Rio, Scj.
Banyak orang hidup di masa lalu, tidak bisa ‘move on’. Hidup dengan menyalahkan dan penyesalan. Masa lalu itu tidak mungkin bisa kita rubah, tidak mungkin juga kita kendalikan. Sadarlah!
Untuk apa memendan masa lalu berlarut-larut! Apa gunanya memendam penyesalan, sedih, dan menyalahkan diri? Tidak ada kebahagiaan, jika kita terperangkap dan terkubang dengan masa lalu. Kita ngotot untuk mengubah sesuatu yang mustahil itu namanya kebodohan.
Dalam hidup ini kadang kita harus berani melepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Kita harus berani melepaskan masa lalu, segala kepahitan, duka, tangis dan penderitaan. Bukan karena hal itu tidak penting. Melainkan masa depan dan hidup kita itu jauh lebih penting.
Coba tebak kira-kira berat HP yang sekarang kita pegang itu? Ada setengah, seperempat… kg? Bila HP itu dipegang dengan merentangkan tangan selama 4 – 7 jam. Berasa berat tidak? Berubah tidak berat HP itu? Berat HP itu tidak berubah. Karena terlalu lama mengangkat maka terasa berat. Begitu pula beban masa lalu, kepahitan, kesedihan, derita, dan kesalahan. Semakin lama mengenggam, maka terasa makin berat dan kita terpuruk.
‘Move on’-lah, kadang kita perlu sejenak meletakan, mengangkat lagi, meletakan lagi, melepaskan dan syukurilah. Di sinilah proses penerimaan, pembelajaran, dan pemaknaan terjadi. Kadang mudah untuk mengatakan, karena tidak mengalami. Namun kapan lagi kalau bukan sekarang. Jangan sampai penyesalan demi penyesalan datang silih berganti, tanpa kita bisa ‘move on’.
Selalau ada jalan bagi yang mempunya iman. Selalu ada pengharapan di dalam Tuhan. Percaya dan imani, Tuhan akan menunjukan jalan ke luar dan memberikan kita yang terbaik.
Ingat, setiap tetesan air mata dan keringat kita yang jatuh itu tidak pernah jatuh sia-sia. Terimalah, syukurilah, berusahalah, perbaikilah dan selalu berharaplah kepada-Nya. Karena semua itu menjadi yang terbaik bagi orang yang percaya.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

