“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang (tidak menyangka), yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu. Hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah (sungguh dicari dan dirindukan)”
Begitulah gambaran sukacita dari orang yang telah menemukan Kerajaan Surga. Hal-hal lain seolah-olah tidak dibutuhkan lagi. Kesannya, ini merupakan titik akhir dari perjalanan hidupnya untuk dinikmatinya!
Yang patut kita lihat dalam hal ini adalah prosesnya. Betapa orang yang menemukan Kerajaan Surga ini telah menunjukkan pengorbanannya.
Bahkan, ia siap untuk kehilangan segalanya. Alasannya satu, yaitu ia menemukan sukacita.
Karena sukacita itu:
- Tidak tergantikan
- Mahal harganya
- Tidak bisa diuangkan
- Hanya kita yang merasakannya.
Maka, tepat sekali Tuhan Yesus menempatkan, bahwa hadirnya Kerajaan Allah itu disimbolkan dengan adanya sukacita. Implikasinya adalah …
- Jika ada sukacita dalam hidup ini, di situ kita telah menghadirkan Kerajaan Allah.
- Jika ada sukacita saat kita melakukan pekerjaan setiap hari, di situ kita telah menghadirkan Kerajaan Allah.
- Jika ada sukacita saat saling berjumpa dan menyapa, di situ kita juga telah menghadirkan Kerajaan Allah.
Itulah sebabnya, wujud dari Kerajaan Allah itu amat konkrit, sehingga banyak orang tidak pernah berhenti untuk mencarinya dan terus merindukannya dari hari ke hari.
Tugas kita sekarang adalah menjadikan diri kita (komunitas) sebagai harta yang terpendam dan mutiara yang berharga. Sehingga saat orang bersama dengan kita, mereka merasakan kehadiran Kerajaan Allah, karena ada sukacita di sana (menakjubkan dan dirindukan).
Rm. Petrus Santoso SCJ

