“Seberat-beratnya beban hidup ini, jauh teramat berat itu beban jiwa, ketika kita tidak mau berdamai dengan diri sendiri.” – Mas Redjo
Berdamai dengan diri sendiri itu sederhana, kesannya mudah, tapi teramat sulit untuk dilaksanakan dan diwujudkannya.
Faktanya kita sering lupa diri, ketika sedang senang dan berada di atas.
“Beruntung, saya mempunyai istri yang pemaaf dan sabar ingatkan saya,” cerita JJ, ketika siang itu ia mampir ke toko.
Awal mula JJ terperosok dan jatuh ke dalam hiburan malam, ketika ia dijamu oleh pemasok selai. Ia diajak sekali-dua nonton musik dangdut, hingga ketagihan dan terlibat ‘fair’ dengan seorang penyanyinya.
“Silakan, jika Akang ingin beristri lagi. Tapi jangan menutup sumber usaha kita,” kata istrinya, ketika ia bangun kesiangan. Pekerjaan di pabrik diambil alih istri dan mandor.
Kata-kata istrinya yang lembut dan tanpa emosi itu bagai guyuran air es di kepala membuat ia gelagapan dan… seperti diingatkan!
Ternyata selama ini ia melupakan tanggung jawabnya mengelola pabrik.
Tidak hanya itu, tanpa disadari dan
sepengetahuannya, istrinya rela menjual perhiasan simpanannya demi menutup hutang-hutangnya!
Kini, bahkan istrinya yang telah disakiti itu merestuinya, jika ia ingin menikah lagi!
Harga dirinya seperti dihempaskan! Penyesalan itu datang bergulung membuat nafasnya menyesak sakit diaduk-aduk oleh perasaannya yang makin tidak karuan.
Karena merasa usahanya maju dan berkembang, ia seperti dibutuhkan oleh para pemasok barang. Ia lupa saat awal merintis bersama dengan mereka.
“Jadi, kau ke sini, karena disuruh istrimu?” gurau saya.
“Aku merasa bersalah, dan banyak hutang padamu,” kata JJ sambil tersenyum kecut.
“Padahal aku merasa kau tidak punya hutang, karena aku telah melupakannya.”
“Itulah kau. Dulu kau naik ojek agar aku bisa produksi. Itu yang tak bisa kulupakan,” desah JJ penuh sesal. “Semua ingin kuberesi agar tak jadi tanggungan keluarga,” lanjutnya seperti ditujukan pada diri sendiri.
Saya mengiyakan dan bersyukur. JJ sadar. Ia menyesali perbuatannya dan ingin perbaiki diri.
Sepulang JJ, saya refleksi diri. “Dari tiada ke ada, lalu kembali ke tiada.” Bahwa sesungguhnya kita lahir dan pulang kembali pada Allah dengan telanjang agar kita menjalani hidup ini dengan ikhlas.
Mas Redjo

