“Jangan persulit orang lain, jika hidup kita ingin dimudahkan.” – Mas Redjo
Hal yang lumrah dan wajar. Semua orang tentu ingin dimudahkan, dan tidak ingin mengalami kesulitan yang berarti dalam hidup ini.
Riilnya, apa kita mau menerapkan hal itu pada diri sendiri?
Karena tidak hanya sulit, tapi hal itu juga berat untuk diterapkan dan dijalankan dalam hidup keseharian ini.
Dalam realitasnya, kita mudah menemukan, bahkan mengalami sendiri suatu hal yang bertolak belakang dan berbeda dengan yang diharapkan itu.
Ketika kebaikan yang kita lakukan itu ditanggapi dengan cemooh, dianggap pencitraan, bahkan adakalanya kita dicurigai. Ibarat ada udang di balik batu.
Tidak jarang pula, ketika mengurus surat atau dokumen dalam suatu instansi, kita sering kali dipersulit juga.
Bukan rahasia umum, ketika muncul pameo yang membuat miris hati, “kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah.” Bahkan banyak juga orang yang kemalingan itu tidak mau melaporkan ke aparat, karena hal itu percuma, buang waktu, dan sia-sia.
Bagaimana sikap kita menghadapi kenyataan yang bertolak belakang seperti itu?
Sesungguhnya, sikon apa pun yang terjadi dan bertolak belakang itu sebenarnya tergantung pada kita yang menyikapinya.
Sesungguhnya, sikon yang sulit itu bukan dikarenakan orang lain, tapi sumber utama adalah ego sendiri.
Ketika kita mengurus suatu surat atau dokumen, sulit atau tidaknya itu sepenuhnya bergantung pada diri sendiri, asalkan syarat yang dibutuhkan itu dilengkapi, komplet dan jalurnya benar.
Faktanya kita sering kali menempuh jalur ekspres dan malas mengurus sendiri.
Begitu pula saat kita kemalingan itu suatu tanda, bahwa kita kurang hati-hati, teledor, dan seterusnya.
Cobalah untuk tidak mudah menilai dan menghakimi orang lain dengan berefleksi diri.
Coba kita belajar terus menerus untuk menyederhanakan hidup ini, adakah kita menemukan hal yang sulit dan rumit?
Sesungguhnya, ketika kita berani untuk menyederhanakan hidup ini, maka semua itu jadi dimudahkan.
Sederhana dan ikhlas untuk hidup bahagia.
Mas Redjo

