“Tidak usah malu, jika pekerjaanmu biasa-biasa saja. Tapi malulah bila malas, cuma rebahan dan tidak berbuat apa-apa, apalagi menyusahkan orangtua.” – Rio, Scj.
Setiap orang pasti pernah mengalami rasa malu. Malu itu wajar, namanya juga manusia.
Janganlah malu akan 5 hal ini:
Pertama: pekerjaan, banyak orang suka minder dengan pekerjaannya, kurang bergengsi. Ketika ditanya, “Apa sih pekerjaanmu?” Biasanya jawabnya, “Yah, saya karyawan biasa, cuma buruh,… gaji saya lebih kecil dari temen-temen, biasa saja, dan tidak ada apa-apanya kok.”
Stop! Berhentilah berpendapat seperti itu. Semua pekerjaan itu baik, asal kita bahagia dengan pekerjaan itu. ‘Just do it!’ Tidak usah pusing dengan penilaian dan kata orang. Tidak usah malu juga, jika pekerjaan kita biasa-biasa saja. Tapi malulah, jika kita malas bekerja, tidak berbuat apa-apa, apalagi menyusahkan orangtua.
Ingat, ketika mencintai pekerjaan kita, berarti pekerjaan itu menjadi sarana Tuhan menyalurkan rezeki-Nya untuk kita.
Kedua: masa lalu. Setiap orang mempunyai masa lalu. Tidak perlu malu, walaupun seburuk apa pun itu. Sekarang berbeda, karena kita berada di masa kini. Justru kita harus malu, jika merasa nyaman dengan keburukan dan kesalahan itu. Kita malu, jika tidak berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi. Masa lalu itu sebuah pembelajaran. Jika tanpa masa lalu, kita tidak ada di hari ini. Masa lalu itu tidak bisa kembali. Tapi masa lalu bisa menjadi alasan kita untuk berjuang hari ini.
Ketiga: harta milik. Pernah tidak kita merasa malu, tidak pede, ketika melihat postingan teman-teman yang ternyata lebih sukses, kaya, cantik atau ganteng, dan lebih punya segalanya. Malu, karena kita tidak mampu membeli barang mewah, ke luar negeri, atau tidak bisa liburan…
Stop! Sadarlah! Nilai diri kita tidak ditentukan dari seberapa besar rumah, mewahnya mobil, banyak uang tabungan, deposito, atau berapa banyak ‘follower’ kita.
Sesungguhnya, yang kita miliki itu tidak menjamin masa depan kita, status, dan menunjukan jatidiri kita seutuhnya. Lebih bijak, semua itu disyukuri, karena sebagai hasil jerih payah dan anugerah Tuhan. Kita tidak harus malu terlihat miskin, tapi malulah jika kita berpura-pura kaya demi gengsi.
Tuhan melihat hati. IA yang menilai dan kita adalah ciptaan-Nya yang istimewa.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

