Di salah satu group WA, ada seorang teman mengucap: “Selamat bro, pilihanmu menang.” Jawabku: “Terima kasih, tapi bukan pilihanku.” Mungkin dia mengira itu pilihanku, karena saya tidak pernah ikut ramai bicara: “Curang, tidak jujur, melecehkan demokrasi, dan kata-kata pedas lainnya.”
Alasan saya hanya satu, “Saya sudah berjanji pada Selasa sore itu saat salib abu ditorehkan dikeningku, sebelum pagi harinya nyoblos. Bahwa pada masa puasa ini saya akan pantang menghakimi. Ada pihak yang berwajib, seperti KPU dalam pilpres ini.”
Saya pernah baca Amsal 11: 22 “Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tapi orang yang pandai, berdiam diri.”
Tidak ada hal positif yang ditimbulkan dari merendahkan orang lain. Bersikap sombong atau meninggikan diri sendiri hanya membuat diri kita terlihat tercela di mata orang lain. Orang-orang pun akan menggunjing, membicarakan di belakang, bahkan menjauhi kita.
Merendahkan orang lain adalah perilaku atau tindakan yang mengecilkan, meremehkan, atau menghina martabat, kemampuan, atau nilai seseorang. Ini melibatkan penggunaan kata-kata atau tindakan yang sengaja ditujukan untuk membuat seseorang merasa rendah diri, malu, atau tidak berharga. Merendahkan orang lain sering kali dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan perasaan superioritas atau mengukuhkan kekuasaan seseorang atas orang lain.
Merendahkan orang lain bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti menyebarkan gosip, mencemooh, menghina secara verbal, mengejek penampilan fisik atau kekurangan seseorang, mengkritik kemampuan atau prestasi seseorang tanpa alasan yang jelas, atau bahkan menggunakan pelecehan verbal atau fisik. Tindakan ini dapat dilakukan secara langsung dalam interaksi tatap muka, melalui media sosial, atau bahkan dalam bentuk pelecehan online.
Salam sehat berlimpah berkat.
Jlitheng

