Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di dalam kerumunan, anda justru tidak memiliki identitas diri.”
(Amanat Kesejatian Hidup)
Di dalam hidup dan kehidupan ini, sang manusia itu ibarat sedang menarikan sebuah tarian yang melakonkan realitas isi seluruh kehidupan ini.
Lewat gerak tarian itu, anak manusia justru mau mengisahkan tentang pahit pedihnya, bagaimana hidup di dalam sebuah komunitas dunia.
Di dalamnya, anak manusia itu akan menemukan sebuah kesejatian atau pun kepalsuan hidup. Bahwa siapakah engkau itu, dan siapa pula aku ini.
Tulisan refleksi hidup ini mau mengungkapkan sebuah realitas pahit pedih, bagaimana anak manusia itu bergulat dengan dirinya sendiri.
Sang kebijaksanaan pun mengisahkan, bahwa orang-orang baik itu, biasanya tidak disukai dan bahkan akan dijauhkan oleh sesamanya.
Mereka, biasanya akan nyaman berada di dalam sebuah jalan kesepian. Mengapa? Karena mereka sudah memiliki cita-cita dan gaya hidup paten sendiri.
Mereka tidak mau ikut di dalam sebuah arus besar, yang hanya bergerak ke sana-ke mari tanpa tujuan yang jelas. Atau pun hanya sekadar mau berkumpul dan beramai-ramai.
Riil, biasanya orang-orang baik itu, tidak memiliki banyak teman. Mereka sendirian, karena banyak orang tidak menyukai mereka.
Karena sekali lagi, orang-orang baik itu sudah memiliki komitmen dan jatidiri sendiri.
Sebaliknya, akan lebih riskan lagi, karena biasanya, orang-orang yang tidak berpendirian itu doyan masuk di dalam suatu kerumunan.
Justru di dalam kerumunan itu, Anda pun menjadi kian tidak berkepribadian. Maka, sudah otomatis, Anda pun tidak akan dikenal orang. Mengapa? Karena Anda tidak beridentitas.
Marilah di dalam hidup ini, kita belajar untuk selalu bersikap mandiri dan teguh pada prinsip hidup sejati.
Kediri, 21 Februari 2024

