Tidak semua orang suka dengan teguran. Padahal teguran itu adalah sapaan. Disapa berarti diperhatikan dan selanjutnya diluruskan jalan hidupnya.
Dua catatan penting untuk diingat saat kita menyampaikan teguran:
Pertama: kasih dan kebaikan yang harus menjadi motivasinya.
Kedua: sampaikan sesegera mungkin.
Pesan yang hendak disampaikan oleh Yesus adalah tentang menegur orang-orang yang datang kepada-Nya, dengan memperbaiki cara berpikir mereka. Sekaligus ajakan untuk bertobat. Sehingga pesan yang disampaikan itu lengkap!
Intinya adalah: nasib baik atau bencana itubbukan indikator-indikator yang layak untuk mengukur spiritualitas seseorang. Karena Bapa di Surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5: 45). Yang memisahkan kita dengan Allah, dan membuat kita mengalami penderitaan berat adalah dosa. Dalam Injil, Santo Paulus sangat menekankan hidup yang dipimpin oleh Roh, bukan oleh daging.
“Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah” (Luk 13: 6-9) menggambarkan belarasa Allah dan penghakiman-Nya yang ditunda, untuk memperkenankan kita melakukan pertobatan dan terhindar dari konsekuensi-konsekuensi serius yang disebabkan dosa-dosa kita.
Tuhan juga telah berfirman lewat mulut nabi Yesaya: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1: 18). Namun demikian, kita tidak boleh santai, berleha-leha, atau menunda-nunda keputusan untuk melakukan pertobatan, supaya kita dapat mencapai rekonsiliasi dan berdamai kembali dengan Allah.
Sebagai seorang murid yang sungguh ingin mengikuti jejak Yesus Kristus, mari kita memeriksa batin, lalu berbalik kepada Allah dengan “jiwa yang hancur serta hati yang patah dan remuk-redam” (Mzm 51: 19).
Tuhan memberkati.
Rm. Petrus Santoso SCJ

