“Bukan melihat baru percaya, tapi percaya dulu baru akan melihat mujizat Tuhan.” – Rio, Scj.
Hidup adalah mujizat! Meski begitu hidup tidak pernah luput dari ujian, cobaan, kegagalan, dan kesulitan. Dari yang awalnya mujizat terasa berat, dari imposible menjadi I am posible, dari yang mungkin menjadi mustahil.
Jika hal di atas itu terjadi ingat tiga hal ini:
Pertama: mujizat itu nyata. Anugerah. Kita perlu membuka hati dan mempersiapkan diri. Dunia sering mengajarkan kita, melihat dulu baru percaya. Ada mujizat dulu baru percaya. Mana jalannya, kasih itu tahu caranya baru kita percaya. Sebagai orang beriman, orangtua selalu mengingatkan kita, bukan melihat dulu baru percaya, melainkan percaya dulu baru melihat.
Kepercayaan inilah yang membuka anugerah mujizat dalam hidup. Tidak sekaligus, tapi satu persatu mujizat diperlihatkan dan nyata.
Kedua: ‘open mind and open heart’. Keajaiban dimulai dari pikiran dan hati. Ubah pola pikir kita. Kegagalan, penderitaan, cobaan dan krisis kadang menutup mata kita untuk melihat keajaiban Tuhan. Bila kita mau membuka hati dan pikiran kita. Sekalipun krisis, gagal, penderitaan, dan keterpurukan dialami di situ tetap ada keajaiban. Krisis menjadi peluang untuk bertumbuh. Krisis memaksa kita untuk berubah, memaksa kita untuk menjadi orang yang lebih tangguh dan lebih baik lagi. Satu hal penting adalah Tuhan selalu mendampingi, memberkati dan menunjukan jalan. Bukan seperti lampu aladin mujizat itu, tapi ‘step by step’ mujizat dianugerahkan dan diperlihatkan Tuhan kepada kita.
Ketiga: arahkanlah pandangan kita pada Tuhan, dan Dia akan memberikan kita jalan. Percaya dan imani! Sering kali saat kita mengalami semua jalan tertutup dan kita berserah pada penyelenggaraan Tuhan. Kita peroleh kelegaan dan kedamaian. Berawal dari pikiran, hati yang berserah menumbuhkan keyakinan, akhirnya terwujud dalam tindakan. Anugerah mujizat itu menjadi nyata. Dari yang ‘imposible’ menjadi ‘I am posible’.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

