Hidup yang bahagia itu melayani. Jika ada orang yang mengatakan dan beranggapan, bahwa melayani sesama itu membosankan berarti pandangan itu yang perlu dibenahi dan diluruskan.
Coba amati dan resapi dalam hati, tatapan mata orang yang dilayani itu. Ada pendar bahagia di mata itu, karena diperhatikan, dibantu, dan senyum tulus ucapan terima kasih.
Ketika bosan melayani sesama, sebenarnya ada apa dengan kita?
Apakah kita lebih dihargai dan terhormat, jika dilayani?
Ingin dilayani itu pasif, ditunjukkan untuk diri sendiri. Kita ingin diberi. Sebaliknya, melayani itu aktif. Kita memberi, berempati, menghargai, dan menghormati sesama.
Bukankah ada tertulis, jika kita ingin dihargai dan dihormati oleh sesama hendaknya kita melakukan hal yang sama terlebih dulu? (Roma 12: 10)
Adalah bijak, jika kita berefleksi diri, untuk memahami tujuan melayani sesama agar kita tidak disesatkan oleh pujian, pencitraan diri, dan pamrih.
Sesungguhnya semangat melayani itu panggilan, karena datang dari hati yang mengasihi. Kita dipilih dan diutus Yesus untuk mewartakan Kabar Gembira. Kita harus berjuang untuk mengatasi kelelahan, rasa malas, bosan, dan bahkan merasa sia-sia.
Sesungguhnya, tak ada perjuangan yang sia-sia. Tak ada keringat dan air mata yang terbuang percuma. Tetaplah teguh berpegang pada Firman-Nya. Karena perintah Tuhan itu membuat mata bercahaya dan menyukakan hati (Mazmur 19: 9).
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25: 40).
Selamat melayani sesama dengan ikhlas hati. Tuhan memberkati.
Mas Redjo

