Pernah kalah dalam suatu pertandingan? Volley, bola kaki, atau paduan suara?
Yang kalah cenderung lebih ramai, ada yang tak habis upaya untuk menutupi, bahwa kalahnya itu tidak wajar, direkayasa, dan sebagainya. Walau akhirnya, ya, tetap kalah, karena memang beda kelas. Kalau fakta beda kelas itu diterima sebagai dasarnya, hati pasti damai. Begitulah pasukan Festival Paduan Suara kami pagi ini, tidak menang alias kalah. Terkonfirmasi setelah mendengarkan 20 Paduan Suara Wilayah lain.
Orang yang tidak takut kalah cenderung memiliki hati yang lembut dan bersih. Mereka tidak suka kekerasan dan merendahkan orang lain. Sebaliknya memandang dunia dan sesama dengan penuh kedamaian, kekerabatan.
Orang yang tidak takut kalah juga sangat perasa dan solider. Apalagi jika berkaitan dengan perasaan orang lain atau penderitaan orang lain, akan cepat timbul rasa tidak tega.
Memang, tidak semua orang mampu menerima kelas dirinya yang memang kurang dibanding yang lain. Sebagian orang lebih memilih menyimpan dan menyembunyikan. Cara menyembunyikan juga berbeda-beda. Ada yang diam, tetapi ada juga yang ramai, … “Curang, tidak adil, payah wasitnya… ” yang tujuannya untuk menutupi diri.
“Bukan aku, ular itu yang menggodaku.”
Salam sehat dan damai dengan diri sendiri.
Jlitheng

