Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang manusia itu berasal dari debu tanah, dan ia pun akan kembali menjadi debu tanah.”
(Amanat Kesejatian Hidup)
Kita, sang manusia ini, sejatinya hanyalah setitik debu di tumit sang kehidupan.
Kita juga hanya setitik rindu yang secara naluriah selalu merindukan sumber asal kita.
Seperti seruan kerinduan Santo Agustinus kepada Sang Sumber asalnya, “Tuhan, hatiku tidak tenang, sebelum aku beristirahat di dalam Engkau.”
Dari mana sumber asal hidup kita? Ada pun hukum kehidupan mengajarkan kita, bahwa semua makhluk itu sangat rindu untuk kembali menyatu dengan sarang asal hidupnya.
Sang manusia pun bahkan akan kembali ke rahim Ibu bumi, karena bukankah dia pun berasal dari rahim sang Ibu?
Semua isi tindakan dan laku hidup kita, baik atau pun buruk, bukankah akan kembali aku menanggung eksesnya?
Setiap perbuatan baik, akan berdampak baik. Semua tindakan curang pun akan berbuah curang pula.
Seperti makna dialeg klasik ala orang Timur, Indonesia, “Jika Beta su belaga sala, jo, akan sala tero, mau bagena lai?”
“Kami, hanyalah hamba yang tidak berguna,” kata Santo Paulus. Ucapan ini identik dengan bentuk merendahkan diri. Ia sadar diri, bahwa dia pun laksana debu tanah.
Kesadaran sejati akan eksistensi kita yang ibarat debu tanah di hadirat Tuhan, justru mau menunjukkan, sebentuk sadar diri dan kerendahan hati.
Sejatinya ‘debu tanah’ itu mau menyimbolkan kerapuhan dan kehampaan semata sang anak manusia itu di hadirat Tuhan.
Kediri, 19 Februari 2024

