| Red-Joss.com | Ibarat ranting kering yang terbakar jadi abu, tindakan baik itu takkan lenyap. Tapi menjadi lubuk inspirasi yang abadi.
Sebagai anak desa yang pernah hidup dan tumbuh di tepian hutan, saya akrab dan tiap hari bergaul dengan banyak macam pepohonan. Mereka semua murah hati, menyediakan ranting kering yang berlimpah, baik yang terserak di tanah atau yang harus ‘disempal’ (ditarik dan dilepas) dari batangnya.
Potongan ranting kering itu saya kumpulkan, diikat, dan dibawa pulang. Sesampai di rumah, ranting-ranting itu ditumpuk di depan kandang sapi, dibakar untuk ‘bedian’ atau api unggun. Ranting kering itu terbakar dan memberikan kehangatan di udara gunung yang semakin malam makin dingin. Hewan nyamuk pun tidak mendekat oleh api dan asap yang timbul. Sapi-sapi pun nyaman dan saya juga nyenyak di kamar tak jauh dari kandang itu .
Ranting kering itu akhirnya jadi abu. Wujud lamanya menghilang, namun hangat dan aroma yang dihadirkan akan tinggal tetap. Hangat itu melekat.
Ranting kering itu ada di sekitar kita, bahkan di hati ini. Mereka adalah orangtua kita, tetangga, sahabat, saudara, guru kita, ketua RT, atau warga lingkungan kita yang telah hadir memberi makna hidup kita.
Jangan takut jadi ranting. Kalaupun akhirnya jadi abu, hangatnya tak akan lenyap, ganti rupa saja. Juga akan menjadi lubuk inspirasi yang tidak pernah kering.
Menuliskan dan menceritakan adalah upaya sederhana untuk mengingat, bahwa ranting itu tidak mati, tetapi hidupnya berubah dengan cara baru.
Salam sehat dan tak henti berbagi cahaya.
Jlitheng

