Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya ketulusan yang mampu membedakan antara sayap-sayap sang
malaikat serta gada palsu sang iblis laknat.”
(Amanat Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Nyata, bahwa orang-orang sangat gampang terjebak antara: “hidup sejati dan hidup palsu.” Sungguh, kita pun sering terjebak di antara keduanya.
Tulisan ini, terinspirasi oleh sebuah “pesan moral” menggelitik dari media Facebook. Minggu, 11 Februari 2024.
Seorang Ibu dari desa bermalam di sebuah hotel berbintang lima.
Keesokan hari, tatkala Ibu itu hendak meninggalkan hotel, kepadanya diserahkan nota pembayaran sebesar tujuh juta rupiah.
Ibu itu terperanjat dan mengomel panjang.
“Masa saudara, saya hanya tidur semalam, koq harus membayar sangat mahal.”
“Ya, Bu, memang itu tarif tetap di hotel berbintang lima.”
“Tapi, saya kan hanya tidur semalam dan tidak melakukan apa-apa di sini!” protes keras Ibu itu.
“Ya, itu kesalahan Ibu sendiri, di sini kan sudah tersedia: kolam renang, tempat pijat, lapangan golf, danโฆ”
Dengan gaya khas Ibu desa, diletakkannya uang sebesar satu juta rupiah sambil terus mengomel.
Akhirnya, balas Ibu itu, “Ya, itu kan’ kesalahan Bos sendiri, bukankah semalam saya sudah menyediakan diri, tapi Anda kan tidak datang-datang.”
Mencermati suasana dan isi dialog antara Ibu dengan Bos hotel, apa yang terbetik di dalam sanubari saudara?
Ya, saya hanya sanggup mengelus dada duka. Oh sang kehidupan, itukah wajah sejatimu, wahai sang Bunda kehidupan!
Di sini, saya menemukan selembar potret sangat buram soal degradasi sebuah nilai kehidupan.
Betapa nilai-nilai luhur sebuah kehidupan dan keluhuran eksistensi manusia, yang justru tengah ditonton serta dipertaruhkan.
Inilah seraut wajah kepalsuan sang Bunda kehidupan ini. Betapa rendah serta hinanya martabat kemanusiaan.
Inilah realitas hidup kita. Ternyata di balik dan di dalam rerelung misteri kehidupan ini, terdapat wajah-wajah menyeringai kepalsuan belaka.
Peristiwa semalam di hotel berbintang lima ini, hanyalah sepenggal sangat kecil dari totalitas bongkahan raksasa gunung es dari kehidupan ini.
Jangan-jangan, kelak para anak cucu kita pun akan menjadi kaki tangan dari sayap-sayap sang kepalsuan ini!
…
Kediri, 17ย Februariย 2024

