Jangan pernah menghakimi. Lebih bijak, jika kita saling mengingatkan dan mendoakan. Karena kita semua juga tidak mau dihakimi.
Berbuat salah itu hal biasa. Karena kita semua juga pernah melakukan kesalahan. Lebih bijak, jika saling mengingatkan dan mendoakan agar tidak ada di antara kita yang terluka dan sakit hati.
Mengingatkan, karena mengasihi itu kebijaksanaan, ketimbang kita menyalahkan untuk menghakimi.
Jangan pernah katakan, jika orang yang bersalah, apalagi bagi mereka yang merasa benar sendiri itu sulit berubah. Ingat, perubahan itu abadi. Tapi ketetapan itu milik Allah.
Saatnya bertanya pada diri sendiri. Apa kita tidak mau berubah? Apa kita bersikap tidak peduli, cuwek, dan masa bodoh, jika ada anggota keluarga atau teman yang berbuat salah?
Sesungguhnya, ketika bersikap tak peduli dan masa bodoh terhadap kesalahan sesama berarti kita ikut bersalah. Kita juga bertanggung jawab demi kebaikan mereka.
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu, kau telah mendapatnya kembali” (Mat 18: 15-20).
Intinya, jangan pernah bosan untuk mengingatkan anggota keluarga atau teman yang bersalah.
Caranya menegur dengan hati ‘face to face’. Tidak untuk menyalahkan dan menghakimi, tapi menunjukkan kesalahan untui diperbaiki, dan mengingatkannya.
Jika yang diingatkan itu tidak sadar diri dan tidak mau berubah, kita tak harus marah, kecewa, dan putus asa. Tapi kita bisa minta tolong orang pada orang dituakan dan dipercaya untuk menasihatinya. Kita juga membawa harapan itu dalam ujud doa permohonan pada Allah.
Percaya dan imani, nasihat dan doa ikhlas kita bakal didengar Allah, dan IA selalu memberi yang terbaik.
Mas Redjo

