Simply da Flores
…
Proses Pemilu 2024 sedang berjalan
menuju hari pemilihan 14 Februari
dan nanti proses lanjut perhitungan
Baik untuk Paslon capres-cawapres
Untuk para calon senator
dan Caleg pusat hingga daerah
KPU sebagai petugas pelaksana
sedang menyiapkan semua kelengkapan
agar hari Pemilu berjalan lancar
Luber dan Jurdil
Para pengawas, lembaga hukum dan keamanan pun bergiat menjalankan tupoksi
dengan medan tugas bervariasi
dari pusat, kota, desa dan kampung udik
Para Parpol serta politisi sibuk
semua demi meraih kemenangan politik
Entah Paslon capres-cawapres
Entah calon legislatifnya
Juga kolaborasi dengan calon senator
Didukung para tim sukses
menjalankan strategi terbaiknya
didukung sarana dan dana yang dimiliki
Ini pertarungan merebut kemenangan
Ini perjuangan meraih kursi jabatan
Ini usaha mendapat tahta kuasa
“Ada indikasi segala cara dihalalkan
demi meraih kemenangan”
Dasar perjuangan dalam pertarungan politik tersebut
adalah sistem dan aturan Pemilu
yang memberi keyakinan bagi para politisi
melihat kemungkinan dan peluang
untuk meraih kemenangan politik
demi kepentingan kekuasaan jabatan
Entah di eksekutif tertinggi
Entah sebagai senator
Entah sebagai legislatif pusat dan daerah
Entah sebagai parpol pemenang
Satu fenomena yang menarik bagi saya
adalah sebaran informasi media
juga cerita lisan selama masa pemilu
Bahwa
baik politisi, para calon dan tim sukses
baik para profesional dan jurnalis
baik akademisi dan mahasiswa
Apalagi rakyat pemilik suara
Terjebak dalam sebuah fakta
“Karena yakin akan pilihan politiknya
Maka merasa berhak bicara
bahkan bisa mengadili dan mempersalahkan pilihan orang lain
yang berbeda dari pilihannya
Lalu,
terus viral dan menyebar informasi
lahirlah aneka penilaian jelek kepada pihak lain
Munculah sebaran caci maki
Hadirlah hoaks dan membuka aib lawan politik
Bahkan
dengan melabel ‘demi Allah’
dengan menggunakan atribut moral, etika, adat dan agama
‘Pokoknya’ pilihanku atau kelompok kami paling benar
Maka pilihan pihak lain salah, jahat dan dosa
Pihak lain itu lawan politik
yang harus dibungkam dikalahkan
Karena yakin dan merasa berhak
bahwa pilihannya itu kebenaran mutlak
Maka…
diri dan kelompoknya mengklaim pemilik kebenaran hakiki
Lalu dikampanyekan dan dipaksakan
kepada pihak yang di luar diri dan kelompoknya
kepada rakyat pemilik suara
dan itu dilakukan demi kemenangan politik
Padahal,
faktanya KPU sebagai penyelenggara Pemilu
mengumumkan semua parpol peserta, Paslon capres-cawapres, calon legislatif dan senator
adalah sah menurut aturan Pemilu
sehingga bisa menjadi peserta dan calon
Ada juga aturan untuk saling menghormati dan menjaga etika serta moralitas
Herannya…
sebelum terjadinya Pemilu
banyak Paslon dan Parpol peserta adalah kawan politik
banyak calon legislatif pun sahabat satu parpol atau antar parpol di ruang Parlemen
“Kawan dan lawan politik tidak abadi
Yang abadi itu kepentingan pribadi atau kelompok”
Yakin dan merasa sangat berhak
maka lahirlah aneka pernyataan di sosial media
Muncul banyak spanduk dan baliho
Dideklarasikan banyak petisi dan gugatan
Ada demo dan upaya pemakzulan
Ada sosialisasi dan kampanye
disuarakan keyakinan pribadi dan kelompok
Bahwa merekalah pemilik kebenaran mutlak
dan dengan yakin merasa berhak
menilai dan mengadili pihak lawan politik
Serta menyebarkannya kepada publik pemilik suara dan masyarakat luas di negeri ini
Saat saksikan fenomena ini
Apalagi dalam masa tenang menuju hari Pemilu
Terasa miris dan penuh tanya
Apakah ini pesta sungguh demokrasi
Inikah cara menjamin kedaulatan rakyat
Benarkan ini Pemilu Jurdil dan Luber
Mengapa demi kemenangan politik,
maka segala cara dilakukan demikian
Dan
mengapa para akademisi dan tokoh agama serta pemimpin adat budaya
juga ikutan melakukan pengadilan bebas di depan publik,
lalu diberitakan media sosial
Adakah cara lain untuk mendatangi para pihak yang dianggap jahat, salah, melawan hukum itu agar diajak dialog dan diberi petuah, nasihat bijaksana?
Dan satu pertanyaan akhir
dalam upaya menegakkan kedaulatan rakyat dan menjaga demokrasi Pancasila di negeri ini
Apakah pilihan politik seseorang atau sekelompok orang, sungguh dijamin haknya dan diberi kewenangan oleh undang-undang untuk mempersalahkan dan mengadili pilihan politik lain,
dengan caci-maki dan sumpah serapah, serta menyebar hoaks dan membuka aib pihak lawan politik?
Ataukah ini demokrasi digital milenial yang maha bebas
demi menjamin hak demokrasi Pancasila serta cita-cita Proklamasi kemerdekaan NKRI?
…

