“Wanita sejati tidak dinilai dari profesinya, tapi bagaimana dia bisa menjadi versi terbaik bagi dirinya.” -Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Ibu rumah tangga dan wanita karier selalu menjadi dilema seorang wanita. Pilihan yang tidak mudah, karena keduanya sama makna dan pentingnya. Yang satu bisa menambah penghasilan keluarga, yang satunya bisa totalitas mengurus dan mendidik anak di rumah. Yang satu bisa menjadi aktualisasi diri, yang satu adalah wujud dedikasi untuk anak dan keluarga.
Namun ironisnya, apa pun pilihannya seringkali wanita merasa besalah. Sebagai ibu rumah tangga merasa bersalah, karena menyia-nyiakan talenta, bakat dan ijazahnya. Wanita karier merasa bersalah, karena meninggalkan anaknya, berangkat bekerja berlinang air mata. Lalu harus bagaimana sebagai wanita?
Memang tidak mudah menjadi wanita, dengan sejuta pilihan dan konsekuensinya. Balum lagi cibiran orang di sekitarnya. Jika sekolah tinggi-tinggi, tapi hanya di rumah itu sayang pendidikannya. Kok tega ya ninggalin anak di rumah atau dititipkan, eee, dia malah asik kerja. Apa pun alasan wanita, cibiran itu selalu ada, seakan-akan yang memberi komentar itu tidak berperasaan.
Mereka tidak mengerti. Kadang wanita itu tidak mempunyai pilihan. Mereka tak mengerti itu terjadi, karena kebutuhan dan tuntutan. Pola pikir yang diubah. Berhenti untuk membandingkan keduanya. Karena setiap rumah tangga itu berbeda. Sesibuk apa pun orangtua, kasihnya tetap selalu ada bagi anak dan keluarganya.
Ibu rumah tangga dan wanita karier itu pilihan dan keduanua tidak ada yang salah. Asal keduanya dilakukan dengan sungguh dan penuh cinta. Tidak masalah bekerja asal keluarga tak diterlantarkan. Ibu yang cerdas adalah Ibu yang tahu prioritas. Dia tahu mana yang lebih dibutuhkan dan penting bagi keluarganya.
Ibu rumah tangga dan wanita karier itu keduanya berbeda. Tidak berarti yang satu benar dan yang satu salah. Karena kedua pekerjaan itu mulia. Keduanya sama-sama ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

