| Red-Joss.com | Ketika saya mengikuti misa Ekaristi Kudus untuk memperingati seorang sahabat yang telah berpulang, saya seperti diingatkan pada perjalanan cinta ini terhadap keluarga, sesama, dan terutama pada Allah.
Tidak jarang suami atau istri yang bersaksi tentang perjalanan cinta mereka. Bisa juga kerabat, atau sahabat yang ditinggalkan itu untuk menceritakan kesan-kesan mereka tentang pribadi almarhum/ah itu.
Saya pernah mendengar kesaksian cinta seorang Ibu muda yang luar biasa, karena mengopeni suaminya yang lumpuh. Meski godaan datang mendera agar ia tinggalkan suami tercinta. Karena hanya merepoti dan membebani hidup.
“Sesungguhnya hidup kita diuji untuk taat dan setia pada Allah,” Ibu itu mensyeringkan imannya yang mampu menggetarkan hati pendengarnya.
Karena janji pernikahan untuk selalu bersama dalam suka duka dan untung atau malang, Ibu itu tidak mau mengingkari dan menyangkal cintanya untuk meninggalkan suami dan menikah lagi.
Sesungguhnya beban hidup itu terasa berat, karena datangnya dari si jahat, yakni ego manusia itu sendiri. Padahal beban dosa kita yang berat itu telah ditanggung Yesus yang disalib.
Ada juga seorang Bapak yang mensyeringkan tentang iman istrinyanya yang amat menyayangi anak lelaki tunggalnya yang tergoda gadis matre, sehingga banyak hutang. Sehingga orangtua yang menanggung hutangnya.
“Jangan mohon pada Allah agar anak kita putus dengan gadis itu. Tapi berdoalah untuk kebaikan semua. Percayalah, Allah selalu memberi kita yang terbaik. Karena Allah itu hikmat,” kata istrinya untuk berani melihat kenyataan pahit itu agar sabar dan tabah.
Berdoa ikhlas itu, ketika kita berani untuk berserah diri pada kehendak Allah. Apa pun yang terjadi harus disyukuri, meskipun kenyataan itu sepahit empedu. Karena di balik semua itu kasih Allah dinyatakan!
Kesaksian cinta yang disyeringkan oleh pasangan, kerabat, atau teman almarhum/ah itu membuka hati saya untuk refleksi diri dalam arungi bahtera berkeluarga. Pengalaman hidup mereka membuat iman saya makin diteguhkan.
Dengan semangat rendah hati, kita diajak untuk memahami rencana dan kehendak Allah. IA sertai dan dampingi kita untuk memberi yang terbaik.
Jalani, syukuri, dan bahagia.
…
Mas Redjo

