| Red-Joss.com | Bersama Markus 1: 40-45, kita berani memaafkan ‘dia’, siapa pun, yang mungkin telah menyakiti.
Orang yang dikucilkan, dan tidak dimaafkan itu ibarat orang sakit kusta.
Penyakit yang paling ditakuti pada jaman Yesus adalah penyakit kusta. Pada waktu itu yang dianggap kusta ialah luka terbuka dan meluas. Orang yang kena kusta harus dikucilkan dari rumah dan kampungnya. Mereka tidak boleh berhubungan dengan orang sehat dan menjadi orang najis. Jadi sakit kusta, tidak hanya menderita badannya, tapi juga relasinya dengan sesama dan dengan Tuhan. Karena menjadi manusia najis, terkena tanda kutukan Tuhan. Orang yang sakit kusta itu, pasti sangat putus asa, sehingga ia berani datang dekat dan berlutut di hadapan Yesus. Resikonya ia bisa dirajam sampai mati, karena mencemarkan orang sehat, seorang Rabi pula. Tapi ia juga orang beriman, pasrah dalam pengharapannya; ia tidak meratap-ratap tentang nasib malangnya; ia hanya berkata: “Jika Engkau mau…”
Berapa banyak orang di dekat kita yang merasa terpojok, putus asa, tak dipahami. Mungkin kita? Atau… kita yang membuat orang lain terpojok?
Masihkah ada maaf untuk dia? 7 x 70?
Mungkinkah memaafkan seseorang yang tidak bisa dimaafkan?
Mungkin. Seiring sejarah tergelar, nyatanya memang ada orang-orang yang memiliki dada lebih lapang untuk merelakan berbagai dosa masa silam yang telah melukai mereka.
Tantangannya selalu muncul alasan untuk tidak memaafkan:
“Kamu tidak tahu sih sakitnya hatiku!”
“Perbuatannya udah kelewatan, gak bisa dimaafkan.”
“Dia gak layak dimaafkan, dari dulu orangnya emang ngeselin.”
“Aku paling gak bisa diginiin, di rumah gak ada yang tega buat aku marah.”
Santo Yohanes Paulus II, seorang santo asal Polandia, yang ketika masih hidup pernah berkunjung ke Indonesia, memaafkan pemuda Turki yang nyaris membunuhnya.
Nelson Mandela, setelah bebas dari penjara selama 27 th akibat politik apartheid, hal pertama yang dilakukannya adalah memaafkan para sipir yang kerap menyiksanya. “Memaafkan memang tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi di masa lalu, namun akan melapangkan jalan di masa depan,”demikian kata Mandela.
Ya! Memaafkan adalah pilihan. Mengapa? Saat kita memilih memaafkan, kita sedang membebaskan diri kita dari perbudakan emosi dan memberi ruang bagi damai sejati, dan juga merawat hubungan dengan Tuhan. Saat memaafkan, mendekatkan diri kita pada karakter Kristus yang penuh kasih.
“Kalau mau, pasti bisa.”
Memang, memaafkan itu membutuhkan kekuatan lebih, sebagaimana yang juga diucapkan Gandhi dalam autobiografinya, ‘All Men are Brothers’: “Mereka yang lemah tidak akan pernah mampu memaafkan. Hanya mereka yang tangguh yang dapat melakukannya.”
Salam sehat dan makin dekat saat bertobat. “Kita ini abu dan akan kembali jadi abu.”
…
Jlitheng

