| Red-Joss.com | Menyenangkan hati sesama itu anugerah. Tapi menyenangkan diri sendiri itu, karena egois. Sedang menyenangkan Allah itu dibutuhkan kerelaan hati, pengorbanan, dan ikhlas agar hidup kita berkenan bagi Allah.
Untuk menyenangkan hati sesama, kita tidak harus memberi dengan materi atau barang. Tapi bisa lewat sikap dan perilaku hidup keseharian kita.
Menyenangkan hati sesama itu lebih bermakna, jika kita memberi dengan perhatian, apresiasi, dan didasari hati yang mengasihi.
Kita mudah berempati dan peduli dengan keadaan sesama. Kita lebih senang mengalah dan mendulukan kepentingan sesama, ketimbang kepentingan sendiri. Kita sadar diri, karena kita memahami kebutuhan dan keadaan mereka.
Beberapa faktor yang harus dijauhi, bahkan dihindari, jika kita ingin menyenangkan sesama adalah pencitraan diri agar ‘ben-diarani’. Karena ingin dipuji, dihormati, dan didecak-kagumi.
Padahal, menyenangkan sesama yang tidak didasari dengan hati itu datangnya dari si jahat. Ketika kita merasa tidak dihargai, diapresiasi, dan dikecewakan, maka hati ini mudah patah dan terluka.
Ketika perhatian dan kebaikan kita tidak ditanggapi, dicurigai, bahkan disalahpahami sebagai pencitraan diri, kita pun mudah menyerah dan merasa permberian itu sia-sia.
Berbeda niat dan hasilnya, jika kita mengasihi sesama, karena didasari hati yang ingin menyenangkan Allah. Kita berempati, peduli, dan berbagi pada sesama, karena kita ingin menghadirkan wajah Allah yang murah hati.
Kita menyenangkan hati Allah sebagai ungkapan syukur dan terima kasih, karena kita dikasihi-Nya.
Sesungguhnya, kita adalah saluran berkat Allah!
…
Mas Redjo

