Simply da Flores
…
Harapan hadirnya kedaulatan rakyat
Di mana kekuasaan politik
berasal dari segenap rakyat
diemban oleh perwakilan rakyat
dilaksanakan untuk kepentingan rakyat
Adalah perjuangan tidak mudah
untuk diwujudkan dalam sebuah negara
Termasuk di tanah air kita NKRI
dengan dasar negara Pancasila
dengan UUD dan semua aturannya
dengan seluruh perjalanan sejarahnya
dengan kekayaan aneka SARA
dengan deretan Partai Politiknya
dengan peran akademisi dan jurnalisnya
dengan tokoh adat budaya agamanya
Dan jutaan rakyat Indonesia
“KKN terus mengakar dan beranak-pinak
Deretan fakta derita rakyat bertambah
Kekayaan alam dikuras bertambah rusak…”
Demokrasi itu doa dan harapan
Ke luar dari cengkraman penjajah
agar merdeka dan berdaulat
Bukan pergantian wajah penjajah
dari penindasan asing ke penjajah bangsa sendiri
Bukan juga pergantian label
dari kata kasar dan perintah kompeni
kepada kata halus manis berbisa
oleh pejabat omon-omon dan tipu-tipu
“Hukum dan aturan negara
dibuat hasil kompromi dibayarin konglomerat
Penegak Hukum melanggar hukum demi yang membayar dan menjabat
Hukum tajam kepada rakyat jelata
tetapi tumpul kepada pejabat dan penguasa serta pemilik modal
Para mafia terus berpesta pora di atas penderitaan rakyat”
Negara Republik para koruptor
ketika para pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif
Bukan menjadi abdi dan pelayan rakyat
Tetapi
justru menindas dan mencaplok hak rakyat
serta menguras sumber daya alam
demi pemodal yang membayar
dengan mempermainkan hukum aturan
Lalu
dengan bangga berpidato tipu-tipu
atas nama pembangunan
dengan omon-omon kata manis
mengajarkan moral Pancasila dan seruan kata suci keagamaan
serta wejangan kearifan adat budaya
“Saat pemilu disebut pesta demokrasi
Digelar sandiwara perebutan kekuasaan
Bahkan rakyat diadu berkelahi dan saling memusuhi
demi mewujudkan demokrasi di tanah air NKRI tercinta ini”
Rakyat dibuat sibuk dengan gelombang tsunami informasi
dari pusat kekuasaan hingga ke seluruh pelosok negeri
agar pikiran pribadinya dicuci bersih sesuai selera para sutradara
Para tokoh adat, agama dan cendekiawan diperebutkan serta dikotak-kotakkan
agar mendukung sandiwara politik
Warna-warni bendera dan atribut disebar di mana-mana
bahkan ditumpuk dan menjadi sampah mata pikiran dan lingkungan
Para pemain utama di panggung sandiwara
seperti sedang berkompetisi dan menegakkan harapan demokrasi
padahal mereka cuma boneka
Ayat lagu lama dinyanyikan merdu
“Dunia ini panggung sandiwara…”
Ada aneka peran dimainkan
diatur oleh sutradara dan pemilik modal
Inikah wajah demokrasi NKRI
Apakah ini perwujudan cita-cita Proklamasi
Ataukah sekarang ini zaman edan
dan “the most crazy”
di zaman digital milenial ini ?
Saatnya segenap anak negeri sadari
fakta yang sedang menimpa diri
Waktu seluruh rakyat bersatu padu
“Bangkit berdiri dan berani bicara lantang
membelai harkat martabat dan hak asasi”
Hari ini harus revolusi
Revolusi mental dan jari diri
“Sujud mencium Ibu Bumi,
Tengadah memeluk Bapa Langit
Dengan doa hakiki pasrah diri
memohon Kuasa Kebesaran Pencipta
berikan para pejabat bijaksana
kirimkan para pemimpin amanah
Agar melayani warga bangsa Indonesia
meraih cita-cita Proklamasi
Bukan korupsi dan the most crazy
oleh para gangster dan mafia
yang bertopeng para malaikat”
…

