Sifat-sifat yang buruk ini tidak bisa ditutupi dengan kata-kata yang kelihatannya ‘manis’:
- Sifat munafik. Sifat ini pembunuh yang luar biasa. Pemilik sifat ini pandai mengelabui. Ia berkata-kata amat manis. Manis menasihati dan saat ada di depan orang. Tapi yang manis itu, hanya untuk menutupi kemunafikannya. Pribadi yang punya sifat buruk seperti ini mudah dikenali agar kita berhati-hati.
- Sifat iri hati. Sifat ini menjadi penghalang dalam persahabatan. Pribadi yang mempunyai sifat ini, inginnya menguasai seseorang. Dia harus menjadi yang pertama dan yang utama, yang lain tidak boleh. Jika ada yang dekat, hatinya gelisah, tidak suka, dan marah. Sifat ini juga mudah dikenali gerak-geriknya, khususnya saat sedang m berkumpul bersama.
- Sifat suka nyinyir. Sifat ini tampak tidak sopan. Kecenderungan untuk menilai dan membandingkan. Ia menilai dari yang dilihat, tidak mengenali proses yang terjadi pada pribadi tertentu. Hal buruknya adalah apa yang dilihat itu, diceritakan kepada orang lain, dan seolah-olah menjadi sebuah kebenaran. Yang lain ikut dipengaruhi, supaya Ikut-ikutan nyinyir. Hati-hati dengan pribadi ini. Ini tipe penjilat. Biasanya mudah memuji, tapi tidak tulus. Selalu ada motivasi yang tidak baik. Sekali tidak dipuji dari apa yang dia lakukan, maka dia akan menyerang dan tersinggung. Lalu diam merengut.
- Sifat tidak jujur. Sifat ini paling sulit dihilangkan, karena sudah terkait dengan sistem pendidikan yang tidak tepat. Banyak yang mempunyai masalah dengan sifat ini. Karens cenderung tidak jujur dalam berkata-kata dan bersahabat. Orang yang tidak jujur bisa diketahui dari apa yang kita rasakan. Biasanya, hati nurani kita memberitahu, “orang ini jujur dan orang itu tidak jujur.”
Sebenarnya masih banyak sifat yang lain. Tapi sifat-sifat di atas itu muncul, ketika saya membaca Injil hari ini: Kisah Yohanes Pembaptis yang dibunuh atas perintah Raja Herodes.
Di sekitar kita banyak ‘Herodes baru’, yang tidak membunuh dengan pedang, tapi dengan mulutnya, lidahnya, kata-katanya, dan sifat-sifatnya yang buruk itu.
Sesungguhnya kita terus-menerus belajar untuk mengenali pribadi-pribadi ini. Tidak untuk menghindari, menyingkirkan atau membencinya, tapi untuk menerima, mendampingi, dan jika mungkin membimbingnya dengan pengalaman, ilmu, dan kebijaksanaan yang kita miliki. Karena banyak orang yang mempunyai kekurangan, tapi sulit yang mengakui atau menerimanya. Kecenderungan manusia itu inginnya ditinggikan, dan tidak mau direndahkan. Padahal, kita bisa belajar juga dari hal-hal yang direndahkan itu.
Mengenali diri sendiri itu jalan yang tidak mudah, sebab bukan kita sendiri yang menilai, tapi orang lain. Menerima diri dengan kekurangan dan kelebihannya itu suatu kebijaksanaan. Sebab di kedua sisi itu, kita bisa belajar mengatur diri dengan bijak. Karena pemenang kehidupan adalah orang yang bisa menjaga kedamaian hatinya.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

