| Red-Joss.com | “Tunggu, Mas Cantrik…!”
Tiba-tiba panggilan itu menyeruak di antara nyanyian suara unggas yang menyambut datangnya malam.
Mas Cantrik menoleh ke arah suara itu. Ternyata lelaki yang tempo hari membuntutinya, Kisanak!
Meski dada Mas Cantrik berdebar keras, tapi ia mencoba bersikap tenang, dan waspada.
“Ya, ada apa Kisanak?”
“Sebaiknya Mas Cantrik tidak usah kembali ke Pademangan!”
“Lho?! Kenapa tidak boleh pulang ke rumah…”
“Demi kebaikan dan keselamatan Mas Cantrik sendiri.”
“Kau aneh, Kisanak. Rumah saya di sana…”
“Saya tahu, Mas Cantrik. Sebelum hal buruk itu menimpamu.”
“Sebenarnya ada apa…? Kau makin aneh, Kisanak. Tempo hari kau mengikuti, sekarang mengingatkan aku.”
“Maaf sebelumnya. Aku melakukan itu, karena terpaksa. Sikap Ki Gento menyadarkan aku untuk berubah. Sehingga aku memutuskan untuk tidak kembali pada Ki Demang.”
“Kisanak tidak takut diburu orang-orang Ki Demang?” pancing Mas Cantrik.
Kisanak diam, menarik nafas, lalu menggeleng lemah.
“Begitu pula aku. Sejak semula aku menolak menikahi Nyi Suci. Aku rela dirajam, jika bersalah. Faktanya Nyi Suci harus dirajam juga. Ketika aku bersedia menikahi Nyi Suci, tiba-tiba ia rahib. Konon diculik orang Ki Gento yang ternyata tidak bersalah. Ia bersih.”
Kisanak diam, menunduk malu.
“Bagaimanapun masalah ini harus aku selesaikan. Kesewenang-wenangan Ki Demang itu harus dihentikan. Kita tidak boleh berdiam diri, tapi harus bertindak,” kata Mas Cantrik tegas.
“Ki Demang itu banyak pengawal, Mas Cantrik. Kau tidak bisa masuk Kademangan tanpa diketahui,” Kisanak mengingatkan.
“Aku paham dan tidak gegabah,” janji Mas Cantrik. “Kisanak tahu tempat rahasia Ki Demang?”
“Aku juga tidak tahu, Mas Cantrik. Aku sendiri belum lama ikut Ki Demang.”
Mas Cantrik diam. Dari Kisanak, ia memperoleh gambaran tentang Ki Demang.
Untuk merekrut pengawalnya itu Ki Demang mengeluarkan harta tidak sedikit. Ia merayu dan mengiming-imingi banyak pendekar agar mau bergabung dengannya. Tujuannya agar Kademangan menjadi kuat dan disegani. Ki Demang ingin menjadi raja kecil!
Mas Cantrik ingat wejangan Guru Bijak sebelum turun gunung agar ia membaktikan ilmunya untuk menolong orang. Sekarang ia diuji!
…
Mas Redjo

