| Red-Joss.com | “Kasih yang Utama” merujuk kepada pesan Yesus dalam Bacaan Injil hari ini, yaitu hendaknya kita mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan kekuatan kita. Juga hendaknya kita mengasihi sesama manusia seperti pada diri sendiri. Jika kita dapat melaksanakan keduanya, maka hidup kita dijamin tidak jauh dari Kerajaan Allah. Warisan rohani ini diberikan kepada kita agar kita tidak sekadar tahu, tapi kita harus sadar dan siap melaksanakannya. Sebab kita semua merindukan Surga!
‘Harta Terindah’ merujuk kepada pemberian Tuhan yang amat besar diberikan kepada kita.
Salah satu anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada kita adalah: orangtua kita. Mirisnya, masih ada pribadi-pribadi yang terkadang malu mempunyai orangtua yang penampilan fisiknya tidak menarik lagi. Dandanan dan pilihan busananya tidak mengikuti selera zaman. Tidak seperti orangtua tetangga yang modis.
Akibatnya, untuk menggandeng tangan Ibu, ketika berada di antara teman-teman, kita malu. Kita kesal, ketika Ibu dan Bapak tidak menuruti keinginan kita. “Dasar orangtua,” mungkin disertai umpatan seperti itu, di dalam hati.
Kita juga enggan, malas, dan merasa terbebani saat harus mengulang-ulang kata yang tidak terdengar jelas oleh orangtua yang renta dan mulai terganggu pendengarannya.
Kita bahkan merasa terbebani aib menerima kenyataan orangtua kita bukan sosok yang sempurna. Ringkih, TOP (Tua–Ompong–Peot), lusuh, dan dari tubuhnya tercium aroma minyak yang tak sewangi parfum yang kita pakai. Merasa tidak ada yang dibanggakan dari orangtua kita.
Mari sejenak menengok jejak-jejak kita di masa lalu. Betapa Ibu dan Bapak kita tidak pernah berpikir malu untuk mengerjakan pekerjaan apa pun, sekotor dan sebau apa pun, demi menyekolahkan kita, dan agar kita tidak kelaparan. Mereka melakukan pekerjaan apa saja. Bahkan tidak pernah mempedulikan kesehatan sendiri. Mereka membanting tulang dari pagi hingga malam, demi buah hatinya, anak-anaknya.
Mereka juga sosok yang penuh kasih sayang. Dengan sabar mereka mau berulang-ulang mengejakan huruf demi huruf agar kita mampu membaca, mengajari menulis, kata demi kata, kalimat demi kalimat.
Mereka tidak pernah marah, ketika kita bertanya hal yang sama berulang kali. Mereka dengan sabar menjawabnya hingga kita mengerti, dengan bonus senyuman, dan usapan lembut di kepala, bahkan hadiah ciuman mesra di kening kita.
Mereka tidak pernah merasa jijik sedikit pun, ketika kita susah mengeluarkan ingus. Ketika kita buang air sembarangan, dengan telaten mereka memungut dan membersihkan tinja kita, menceboki pantat kita, berulang, berulang dan berulang kali.
Sadarkah kita, tubuh ringkihnya itu akibat dari kerja kerasnya berjuang demi membesarkan kita, menjadikan kita seperti saat ini? Menjadikan kita, sosok yang hebat, bahkan lebih sukses dari dirinya? Bukankah lusuh penampilannya dan tiadanya baluran parfum di tubuhnya, karena mereka lebih memikirkan untuk mengumpulkan uang untuk biaya sekolah kita setinggi-tingginya.
Ibu dan Bapak kita bisa jadi bukan manusia yang sempurna. Banyak kekurangannya. Bahkan, bahasa cinta yang mereka ungkapkan pun tidak seutuhnya bisa kita mengerti dan pahami.
Tapi, yakinlah, di dalam doa mereka, nama kita yang paling banyak disebutnya, dipanjatkannya ke langit tertinggi, kepada Allah yang penuh belas kasih dan penyayang. Supaya Allah mengabulkannya.
Di setiap peluh keringat dan tetes air mata Ibu, ada butiran cinta untuk melihat kita tumbuh dengan baik dan menjadi manusia yang berbahagia. Di antara bentakan dan aturan ketatnya, ada wujud cinta untuk melihat anak-anaknya tidak terluka dan tergores sedikit pun.
Percayalah, Ibu dan Bapak adalah anugerah terindah di muka bumi ini, anugerah yang cintanya pada buah hatinya tak ada putus-putusnya. Yang doa-doanya tak ada henti-hentinya untuk kita, anak-anaknya.
Sebelum tiba waktunya “berpisah”, sebelum sesal datang mendera, sebelum tangis penuh perasaan bersalah mengalir membasahi makamnya kelak, peluk eratlah tubuh Ibu dan Bapak. Peluklah dalam cinta sepenuh hati, jiwa, dan dengan sepenuh kekuatan kita. Ciumlah kedua pipinya. Ucapkan selalu, “Ibu dan Bapak, aku anakmu mencintaimu selamanya.”
Percayalah, bukan dunia dan harta seisinya yang membuat orangtua bahagia. Tapi bakti, cinta, dan doa kita kepadanya yang akan membuatnya bersujud, bersyukur penuh bahagia kepada Allah Bapa di Surga.
Maka, pada hari ini, di hadapan Tuhan Sang Mahacinta, kita hendak mendoakan kedua orangtua kita. Memberikan doa yang terindah, karena Tuhan telah memberikan anugerah yang besar kepada kita, yaitu kedua orangtua kita.
Hari ini kita bersyukur kepada Tuhan, karena diberi “kasih yang utama yang membuat kita tidak jauh dari Surga” dan kita diberi “Harta terindah, yaitu kedua orangtua yang membuat kita bisa hidup di tengah dunia yang indah ini”.
“We are born of love; Love is our mother.” Kami terlahir dari cinta, dan cinta itu: Ibu.
Mari kita mengambil waktu sejenak untuk berdoa bagi kedua orangtua kita! Di dalam doa Ibu, namaku disebut. Di dalam doa kami, anak-anakmu, nama Ibu pun tak pernah putus kami sebut …
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

