| Red-Joss.com | Perjalanan ke Emaus adalah potret kehidupan manusia yang tiada makna, jika Tuhan tidak hadir.
Kleofas dan (diduga) istrinya pergi ke Emaus, karena kecewa, marah, putus asa, kehilangan kepercayaan dan harapan. Yesus, Sang Mesias, mati di salib. Kleofas nyaris hilang harapan, berdua mudik, meninggalkan Kota Yerusalem pusatnya berguru. “Kami tinggalkan semua teman dan kenangan indah bersama Yesus.” Kleopas dan murid lainnya berpikir, bahwa semua habis, selesai, mati.
Pada saat seperti itu: daya ingatnya pada Sang Guru jadi runtuh. Imannya goyah, relasi pribadi lemah. Sebelum berjumpa dengan Yesus, kondisi Kleopas, dan murid yang lain jadi ‘nglokro’ seperti lagu berikut ini:
Tuhan, masihkah mau Kau mendengarkan doaku?
Tuhan, masihkah gerangan sembahku Kau terima?
Mana tangan-Mu?
Gelapnya jalan yang kini kutempuh…
Peristiwa Emaus memberi pengertian mendalam tentang makna persekutuan dalam Ekaristi: ketika Yesus memecah-mecahkan roti, terbukalah mata (iman) para murid. Dia Tuhan. “Inilah TubuhKu dan inilah DarahKu. Makanlah dan minumlah.”
Jawaban iman kita: “Saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh.”
Salam sehat. Selamat menikmati persahaban Ekaristis.
…
Jlitheng

