| Red-Joss.com | Memasuki tahap akhir dalam jenjang formatio di Fakultas Teologi Wedabakti di Yogyakarta, saat itu kami masuk dalam Kelas Profesi Imamat, tepatnya tahun 2004.
Di akhir mata kuliah Spiritualitas Imamat yang diampu oleh Rm. Wahyu, MSF, kami diminta untuk membuat dan merumuskan Visi Imamat kami dengan poin-poin pendukungnya. Inilah rumusan Visi Imamat saya: “Iman Bukanlah Sosok Yang Menakutkan.”
Poin-poin pendukungnya adalah: Berwibawa, Peka, Profesional, dan Pendoa. Saya mencantumkan salah satu poin untuk mendukung Visi Imamat saya, yaitu Seorang Imam adalah Seorang Pendoa = “Man of Prayer.” Poin ini muncul dalam Visi Imamat saya karena selama mengikuti mata kuliah Spiritualitas Imamat itu, sosok dan pribadi Yesus begitu dominan dan masuk dalam relung jiwa mudaku. Contoh konkrit yang harus saya teladani dan ikuti adalah ketekunannya dalam doa (kita lihat dalam teks, ada indikasi banyak waktu, di mana Yesus ambil waktu untuk berdoa). Maka ini mendorong saya untuk menjadi seorang pendoa pula.
Jika ditelusuri jejaknya, tampak, bahwa saya memang mempunyai rasa cinta untuk mencintai yang namanya doa. Ada beberapa peristiwa yang mengesan:
Pertama: saat masih kanak-kanak. Orang yang pertama kali mengajari saya berdoa adalah kakak nomor 2, yaitu Mbak Christiani Dwi Suyanti. Dari Mbak, saya diajari caranya membuat Tanda Salib, kemudian dilanjutkan dengan doa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan. Setelah saya mulai hafal dengan doa-doa pokok itu, saya diajari Doa Rosario oleh Bapak. Bahkan panggilan sebagai imam itu muncul, ketika saya selesai Doa Rosario.
Kedua: saat masa remaja. Bersama dengan teman-teman di kampung, kami aktif dalam kelompok Legio Maria. Satu Minggu sekali setelah Ibadat atau Perayaan Ekaristi, kami berkumpul untuk berdoa. Tentu kualitas doanya masih sangat ritual, artinya sebatas mengikuti aturan. Ada buku panduannya, lalu itulah yang didoakan.
Ketiga: masa saat menjadi seorang seminaris. Di tempat ini mulai diperkenalkan berbagai macam doa yang sangat variatif. Di tempat ini pula bisa belajar banyak bagaimana caranya berdoa dengan baik, lewat pembimbing, teman-teman, juga saat ada rekoleksi dan retret. Pengetahuan dan pengalaman tentang doa berkembang baik. Tapi tantangan yang lain muncul, yaitu ketekunan dalam doa, karena ada godaan dari teman-teman sendiri yang tidak serius dalam berdoa. Kenangan yang mengesan bagiku adalah saya paling rajin Doa Rosario di depan Gua Maria di pagi hari sebelum doa pagi.
Keempat: masa-masa selanjutnya sebagai Frater, Diakon, dan seorang Imam, bahwa ketekunan dan kedisiplinan dalam doa itu tidak dapat ditawar lagi, karena hal itu sebagai sebuah kebutuhan bagi tubuh dan jiwa. Sampai pada akhirnya saya menemukan buku-buku yang meningkatkan kualitas hidup doaku, yaitu Sadhana, “Opening to God”, “Prayer and Common Sense”, “Wood for The Fire”, “Embraced”, “Total Surrender”, dan “When the Well Runs Dry”.
Dengan membaca buku-buku itu dan mempertemukannya dengan pengalaman saya dalam berdoa, sehingga membangun kebiasaan berdoa dengan Bacaan Kitab Suci Harian sebagai sumbernya. Metodenya adalah melalui “Lectio Devina: Lectio – Meditation – Contemplatio – Oratio”. Pada bagian “Oratio”, saya yakini, bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Kesadaran diri yang saya bangun setiap kali berdoa adalah “PUSH = Pray Until Something Happen”.
Banyak mukjizat yang diberikan Tuhan melalui doa-doaku, sehingga membuat aku semakin semangat dalam berdoa. Sebab aku ingin terus menjadi “Man of Prayer” = seorang pendoa.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

